Posts

Showing posts from April, 2018

Perihal Rindu, Menunggu dan Kamu

Mencintai seseorang, tidaklah menuntut untuk melupakan masa lalu-nya. Bukankah begitu? Apa yang perlu di khawatirkan lagi? Bukankah ketika sudah menjadi masa lalu, itu berarti dia telah memilih untuk melaluinya daripada mempertahankannya. Bukankah ketika sudah menjadi masa lalu, itu berarti dia telah memilih untuk meninggalkan dan menjemput sosok lain yang berada di masa depan. Apalagi yang perlu dirisaukan? Perihal keraguan, tidak semua manusia dapat menentukan pilihan dengan cepat. Cepat, atau lambat.. tentu tidak menjamin akan tepat. Hanya saja, banyak keraguan yang membuat kehilangan. Ada yang sabar menunggu, Ada yang tidak bisa menunggu, Ada yang harus menunggu, Ada yang tidak ingin menunggu. Hidup adalah soal pilihan-pilihan yang sulit. Sulit bukan berarti tidak bisa dipilih, bukan? Ada batas yang ditentukan setiap hati yang disudutkan perihal menunggu. Ada yang siap dengan kehilangan, Ada yang siap dengan pengkhianatan, Ada yang siap dengan menjemput ...

Sayang,

Aku tak apa begini saja. Izinkan aku memberitahumu satu hal. Aku sedang bahagia. Begitu bahagia, hingga aku lupa bahwa aku pernah terluka. Teruslah seperti ini, jangan hanya sebentar, lebih lama lagi, hingga aku siap terluka lagi. Namun, aku tidak akan pernah memberitahumu ketika aku sudah siap untuk terluka kembali. Sayang, aku tak apa begini saja. Aku tak apa hanya menjadi definisi nyaman menurutmu, tidak dimiliki, bahkan tidak kamu bagi hatimu--yang telah lama sepi. Sayang, lihatlah. Aku ada disini, telah siap dan akan menyanggupi semua permintaan untuk membuatmu tidak merasa bosan berada di sisiku. Sayang, aku tidak peduli apakah kita hanya teman atau bahkan hanya pemeran pengganti. Ketika bersamamu, aku melupakan semua luka yang pernah digoreskan oleh yang lain. Sebab, itu melebihi apapun. Sayang, banyak hal yang ingin aku pertanyakan. Hingga kini, aku bukan tidak berani menanyakan langsung, hanya saja aku belum berani mendengar jawabannya. Sayang, aku mencintaimu. ...

Aku ingin

Hari ini, pada hari keempat di bulan April. Aku kembali menemukan sepotong rasa yang pernah hilang. Kali ini, ku beritahu bahwa rasa itu telah utuh. Menjelma menjadi rasa yang memenuhi hati hingga sesak. Tidak ada celah lagi untuk memberikan ruang pada yang lain. Bagaimana rasanya dicintai denganku? Dengan utuh, dengan yang-hanya kamu. Malam-malam panjang kini berubah menjadi senyum yang merekah, setiap kali aku mengingat apa yang pernah dilakukan perihal kita. Aku tidak menyesal karena jam tidurku menjadi tidak teratur, sebab aku menghabiskan dingin malam dengan-mu yang menjadikan ruang sepi menjadi terisi. Terima kasih, untuk segala hal yang membuatku nyaman berlama-lama denganmu. Untuk segala rasa bahagia yang ketika aku hanya melihatmu. Untuk segala harum yang membuatku ingin begitu memelukmu. Aku mencintai rasa yang tak pernah habis walau ku tepis. Aku mencintai kamu yang tak pernah bisa kumiliki walau mungkin aku hanya asing. Aku mencintai kamu. Mencintai sel...