Posts

Showing posts from January, 2017

Pertanyaan sederhana

“kapan ya? Gue jadi blogger yg terkenal?” Mungkin, sebagian manusia yg suka menulis dan punya blog tentunya pernah terselip sebuah pemikiran seperti di atas. Yaa nggak sih? Kalo nggak juga gapapa sih. Nggak maksa, serius. Jujur aja sih, gua sebagai penulis kutipan di paling atas tulisan ini selalu punya pemikiran yang begitu, dan ntah kenapa gue pengen aja jadiin pertanyaan diatas sebagai awal pembuka tulisan ini. Saran gue, kalo kita terus berpikiran untuk menjadi besar, kita bakal terus berada di bawah. Kenapa? Karena suatu hal tidak akan pernah bisa dengan instan menjadi luar biasa tanpa memastikan bahwa hal kecil sudah dipastikan dengan benar. Yaa.. intinya, dalam hidup ini semuanya nggak ada yang instan. Mie instan aja harus di masak dulu, di rebus, belum lagi buka kemasan bumbunya apalagi bagian minyak nya, kalo nggak belepotan rasanya kurang afdol. Ya nggak sih? Kalo nggak juga gapapa sih. Nggak maksa, serius. Jadi, gue Cuma mau mastiin buat diri gue sendiri kalo ingin...

Tentang Sebuah Kisah Yang Telah Usai (lagi)

Masa lalu itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilupakan. Terkadang tersimpan hal-hal baik yang mesti tetap diingat, bukan untuk dikenang hanya untuk sekedar paham bahwa ada arti dari sebuah kehilangan. Perjalanan itu tidak semestinya ingin terus seperti gula, manis. Bukankah perjalanan itu lebih terasa menyenangkan jika kita nyaman menjalaninya? Dalam kondisi apapun. Sebuah perjalanan pasti menghadirkan kisah panjang tak terlupakan, meski kadang ada hal yang tidak perlu diingat. Kisah hadir bukan untuk dikenang, melainkan untuk mengisi hari-hari agar tidak kosong. Setiap manusia perlu berbenah untuk melanjutkan perjalanannya. Tidak akan ada bahagia jika tidak pernah merasakan pedihnya air mata. Kenangan ada untuk itu, untuk menjelaskan pada kita bahwa bahagia bukanlah sebuah kesenangan, tapi kepedihanlah yang menjadi sebuah arti bahwa tidak akan pernah ada tawa atas sebuah pedih yang menyayat hati. Kembali lagi menuju masa lalu. Cerita tidak akan ada habisnya untuk di tulis. Seb...

Yang Lalu atau Yang Baru?

Bahagia bersama orang baru atau dengan orang lama yang membosankan? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Manusia pada hakikatnya tidak akan pernah merasa puas atas pencapaian yang telah dimilikinya. See? Saat seseorang masih sendiri (jomblo) dia akan merasa hidupnya paling terpojokan diseluruh dunia. *wah.. Dia bakal nyoba buat tampil semenarik mungkin untuk membuat peluang mendapatkan lirikan dari lawan jenis di depannya. Kadang tebar pesona yang berlebihan malah bikin lawan jenis ilfeel atau bahkan lari jauh menghindar. Dia coba cara lain, menjadi dirinya sendiri, karena katanya : “kalo dia cinta ama lo, dia bakal terima lo apa adanya”. Yakin? Masih percaya sama kata-kata begitu? Dia mulai didekati oleh lawan jenis yang menurutnya bukan tipenya banget. Tapi tetap dia pacarin dengan alasan “biar gue ga disebut jomblo terus”. Jadi situ pacaran Cuma untuk sekedar merubah status? Bukan untuk berhenti mencari? Tapi untuk mengisi kekosongan hati? *hellow Beberapa waktu terlewati, ...

Keraguan atau kepastian?

Sebuah ragu, dari kisah di penghujung batas penantian. Katamu, aku ragu? Aku atau kamu? Rindu itu tabu. Aku tidak perlu bertemu dengamu. Dengan tidak membuatku menunggu, itu sudah lebih dari cukup menuntaskan rinduku. Jangan bertanya? Lalu, aku harus berkaca? Pilihan itu bukan untuk dikhianati. Kamu, adalah tumpuan dari keraguan itu berasal. Lemah. Kau bukan kehilangan arah, hanya saja kamu belum bisa memastikan. Aku sudah mencoba membiarkan semuanya seolah baik-baik saja. Mencoba melepasmu, melapangkan dada untuk mengutarakan bahwa "aku baik-baik saja tanpamu, disini". Sebuah usaha melupakan, itu mudah saja untuk dikatakan. Tapi, ternyata melupakanmu tidak semudah itu. Bukan kepergianmu yang menyulitkan untukku. Tapi, memutuskan untuk pergi tanpa memastikan yang sangat mematikan hatiku. Bagaimana caranya aku bisa melupakan? Jika kau saja datang lalu pergi, lagi. Harus ku usir jauh-jauh? Tapi aku tidak ingin terlepas darimu. Kepastian itu menyesakkan...

Berada Di Tengah Keluarga Yang Lain

Kebahagiaan pertama di dua ribu tujuh belas. Rindu.. Saat masa kecil dahulu. Hari ini, hari kedua pertama di tahun dua ribu tujuh belas, masih di bumi yang sama. Kebahagiaan itu terpancar, aku berada di tengah-tengah keluarga yang lain. Hangat, sungguh. Kebersamaan yang tiada duanya. Aku mencoba melakukan kesalahan, dengan membandingkan keluargaku yang sebenarnya. Jauh berbeda, dari ketika yang aku dapat pada kebahagiaan di hari ini. Aku tahu, kebahagiaan tidak selalu tentang uang. Tapi disini, aku tahu dan merasakan bahwa uang benar-benar bisa membuatku senang berada di tengah-tengah keluarga yang lain. Anakmu, hanya merindukan sebuah kebersamaan. Apakah salahku? Berharap mendapatkan kasih sayang yang lain dari keluarga yang baru? Rumah bukan tempat kembali. Kini, aku telah menemukan sebuah tempat persinggahan yang indah. Tempat itu, keluarga kekasihku. Aku tahu, aku salah karena telah merasa iri dengan kehangatan di tengah keluarga mereka. Aku ada disitu, aku m...