Posts

Showing posts from August, 2016

Tentang Orang Ketiga

Kau putih, bagai awan. Bagai kapas yang mudah terbang tertiup angin. Mudah lepas, tidak terikat bahkan pada langit sekalipun. Awan bisa juga menghitam, ketika hujan yang membuatmu pekat, gelap, hilang. Kau itu layaknya bumi, Kadang terdapat matahari yang membuat cerah, kadang terdapat hujan yang membuatnya basah, dan kadang terdapat rembulan yang menerangi gelap. Kau tahu aku ini apa? Aku adalah makhluk yang tinggal di bumi itu, yang harus selalu menyesuaikan diri dengan udaramu, hingga harus tahu caranya bertahan dalam cuaca apapun, untukmu. // Ada sebuah kisah pahit di setiap perjalanan panjang cerita cinta yang manis. Aku tahu itu, hanya saja mungkin belum bisa menerimanya. Ketika aku sadar, bahwa ada seseorang lain yang hatinya sedang di jaga olehmu. Aku tahu diri, itu berarti bukan hanya aku yang mengisi ruang kecil di hatimu Kita telah terikat, oleh sebuah pegangan yang erat dan kamu sendiri yang mengikatnya. Tapi, cinta adalah ikhlas menerima, ikhlas mencinta...

Tentang Cerita Cinta Yang Telah Usai

Ada kisah yang masih tertinggal disini, dalam relung hati yang terlalu dalam. Hingga ia bahkan tidak bisa lagi menguap lalu menghilang. Kisah itu tentang cerita cinta yang telah usai. Cerita panjang tentang sebuah perjalanan yang dengan sengaja ku sudahi agar benar-benar hanya menjadi kenangan. Mengapa begitu? Karena semakin panjang kisah itu kubiarkan, maka akan semakin sulit untuk bahkan hanya sekedar diingat. Tujuan kenangan adalah untuk memahami arti dari sebuah perjalanan yang pernah dilalui, untuk bercermin lalu meninggalkan hal yang pernah begitu disesali, untuk menjadi cerita dalam hidup yang semestinya pasti dikenang. Cerita itu, biar hanya menjadi kenangan.. Terkadang, ada beberapa part dalam hidup yang harus dilupakan. Bukan untuk meninggalkan kenangan, hanya saja jika mengingatnya akan menjadi sebuah batu yang menghalangi untuk terus melompat menjauhi sebuah hal yang memang seharusnya ditinggalkan. Ada kisah yang memang hanya ditakdirkan untuk dinikmati sendir...

Pada Satu Cinta

"Aku kan berjanji takkan mengulang segala kesalahan, aku kan mengabdi pada satu cinta dan itu dirimu" Malam itu, pertama kalinya aku benar-benar mempercayaimu. Aku mencintaimu, sungguh. Satu-satunya alasan aku mencintaimu adalah perihal kamu yg selalu membuat tertawa. "Cinta adalah ketika kita bahkan ngga bisa berhenti senyum melihatnya ada di depan mata kita" Aku percaya, tuhan menakdirkan setiap pertemuan bukan tanpa alasan. Tuhan mempertemukan kita dengan satu alasan, yaitu cinta. Aku bahkan tidak peduli betapa bahagianya orang lain yang diperlakukan bagai tuan putri oleh pasangannya, yang aku tahu aku bahagia karena memiliki dia seutuhnya. Dia yang selalu membuatku tertawa dengan kejahilannya. Dia yang selalu membuatku tertawa dengan semua ucapan manis tentang cinta. Dia yang selalu menjadi orang paling menyebalkan hanya untuk membuatku tidak merasa bosan ketika bersamanya. Dia itu segalanya, dia itu indah. Untuk itu, aku mencintainya dengan s...

Berdamai dengan Masa Lalu

Malam dengan hujan, selalu menuntunku untuk menggerakan tangan lalu menulis. Padahal, tidak terselip quotes malam ini, tetap kulanjutkan. Hujan itu selalu mau datang, meski ia tahu rasanya jatuh berkali-kali. Mentari itu selalu mau hadir, meski ia tahu banyak sebagian orang yg merutuki. Lalu, kenapa manusia tidak bisa seperti mereka? Jatuh sekali saja langsung menyerah. Dirutuki sekali saja langsung membenci. Manusia itu selalu begitu, egois. Termasuk aku. Kali ini, tentang sebuah kebencian yang tidak terduga. Kita tidak pernah tahu tentang takdir yang mengarahkan kemana, bertemu siapa, dimana, dan kapan.. Tapi, bukankah tuhan menciptakan akal untuk befikir? Untuk memilih dengan siapa dan harus berlaku seperti apa, bagaimana.. Ada yang pernah mengatakan.. "Ketika kamu membenci seseorang, maka saat itu juga kamu telah kehilangan beberapa waktu bahagiamu". Kebencian itu menaburkan rasa dendam, membuat sedih, dan melupakan bahwa dengan berdamai mungkin akan lebi...

"Rumah bukan tempat kembali", lagi.

Hidup adalah soal warna. Tentang warna abu-abu atau warna jingga. Hidupku adalah sebuah warna abu-abu, dahulu. Setiap rona warna hadir membuat keindahan mata yang hanya berada di awal pertemuan. Entah itu tentang cinta, atau segala sesuatu yang akan berakhir tragis. Aku benci warna abu-abu, karena disana keraguan itu berada. Abu-abu adalah tidak hitam tidak putih. Melainkan suatu tempat dimana pilihan-pilihan itu bersemu menjadi satu. Aku begitu membenci berada diantara pilihan-pilihan yang menyulitkan. Warna yang paling kusuka adalah jingga, karena ia selalu indah. Aku pernah berharap, bertemu dengan seseorang yang akan membuat warna hidupku berubah. Dari abu-abu menuju jingga. Kini, aku dalam perjalanan menuju warna indah itu, namun kebahagiaan memang tidak akan pernah abadi. Hingga, setiap perjalanan menemukan lorong gelap yang membawaku kembali ke warna abu-abu. Sebuah tangan menuntunku kembali ke jalan yang benar, menuju warna jingga kesukaanku. Hidupku masih abu-abu, hi...