Berdamai dengan Masa Lalu
Malam dengan hujan, selalu menuntunku untuk menggerakan tangan lalu menulis. Padahal, tidak terselip quotes malam ini, tetap kulanjutkan.
Hujan itu selalu mau datang, meski ia tahu rasanya jatuh berkali-kali.
Mentari itu selalu mau hadir, meski ia tahu banyak sebagian orang yg merutuki.
Lalu, kenapa manusia tidak bisa seperti mereka?
Jatuh sekali saja langsung menyerah.
Dirutuki sekali saja langsung membenci.
Manusia itu selalu begitu, egois. Termasuk aku.
Kali ini, tentang sebuah kebencian yang tidak terduga.
Kita tidak pernah tahu tentang takdir yang mengarahkan kemana, bertemu siapa, dimana, dan kapan..
Tapi, bukankah tuhan menciptakan akal untuk befikir? Untuk memilih dengan siapa dan harus berlaku seperti apa, bagaimana..
Ada yang pernah mengatakan..
"Ketika kamu membenci seseorang, maka saat itu juga kamu telah kehilangan beberapa waktu bahagiamu".
Kebencian itu menaburkan rasa dendam, membuat sedih, dan melupakan bahwa dengan berdamai mungkin akan lebih baik.
Sepertinya bukan hanya sebuah "kemungkinan". Tapi pasti, tidak terbantahkan.
Kebencian adalah sebuah alasan kenapa terjadi pertengkaran, permusuhan, dan perbedaan.
Aku pernah begitu mencintai seseorang hingga sampai di titik dimana aku bahkan tidak tahu caranya "kembali".
Kembali yang kumaksudkan disini adalah menuju jalan pulang, berbalik arah.
Aku tahu akhirnya, jalan untuk menuju pulang dan kembali untuk membuka hati adalah dengan membencinya.
Ternyata aku salah.
Satu-satunya cara agar aku berhenti mencintainya dan dengan tidak membencinya adalah berdamai dengan cinta itu sendiri.
Sebagian orang mungkin berfikir, bahwa berdamai berarti kembali berada di masa itu.
Bukan, begini..
"Patah hati terberat adalah ketika kita dapat melupakan orangnya, tapi masih mengingat kenangannya."~
Benar bukan?
Untuk itu, satu-satunya cara untuk meninggalkan dan pergi jauh dari masa tersebut tanpa melupakan semuanya adalah dengan berdamai.
Mengingatnya, tapi jangan pernah berharap akan bisa mengulanginya lagi.
Mengingatnya, tapi jangan pernah memutuskan untuk mencintainya lagi.
Mengingatnya, tapi jangan pernah berfikiran bahwa ia "mengingatmu" juga.
Kenangan itu ada untuk dikenang, bukan untuk berharap kembali berada dalam kenangan itu, apalagi dengan orang yang sama.
Hujan itu selalu mau datang, meski ia tahu rasanya jatuh berkali-kali.
Mentari itu selalu mau hadir, meski ia tahu banyak sebagian orang yg merutuki.
Lalu, kenapa manusia tidak bisa seperti mereka?
Jatuh sekali saja langsung menyerah.
Dirutuki sekali saja langsung membenci.
Manusia itu selalu begitu, egois. Termasuk aku.
Kali ini, tentang sebuah kebencian yang tidak terduga.
Kita tidak pernah tahu tentang takdir yang mengarahkan kemana, bertemu siapa, dimana, dan kapan..
Tapi, bukankah tuhan menciptakan akal untuk befikir? Untuk memilih dengan siapa dan harus berlaku seperti apa, bagaimana..
Ada yang pernah mengatakan..
"Ketika kamu membenci seseorang, maka saat itu juga kamu telah kehilangan beberapa waktu bahagiamu".
Kebencian itu menaburkan rasa dendam, membuat sedih, dan melupakan bahwa dengan berdamai mungkin akan lebih baik.
Sepertinya bukan hanya sebuah "kemungkinan". Tapi pasti, tidak terbantahkan.
Kebencian adalah sebuah alasan kenapa terjadi pertengkaran, permusuhan, dan perbedaan.
Aku pernah begitu mencintai seseorang hingga sampai di titik dimana aku bahkan tidak tahu caranya "kembali".
Kembali yang kumaksudkan disini adalah menuju jalan pulang, berbalik arah.
Aku tahu akhirnya, jalan untuk menuju pulang dan kembali untuk membuka hati adalah dengan membencinya.
Ternyata aku salah.
Satu-satunya cara agar aku berhenti mencintainya dan dengan tidak membencinya adalah berdamai dengan cinta itu sendiri.
Sebagian orang mungkin berfikir, bahwa berdamai berarti kembali berada di masa itu.
Bukan, begini..
"Patah hati terberat adalah ketika kita dapat melupakan orangnya, tapi masih mengingat kenangannya."~
Benar bukan?
Untuk itu, satu-satunya cara untuk meninggalkan dan pergi jauh dari masa tersebut tanpa melupakan semuanya adalah dengan berdamai.
Mengingatnya, tapi jangan pernah berharap akan bisa mengulanginya lagi.
Mengingatnya, tapi jangan pernah memutuskan untuk mencintainya lagi.
Mengingatnya, tapi jangan pernah berfikiran bahwa ia "mengingatmu" juga.
Kenangan itu ada untuk dikenang, bukan untuk berharap kembali berada dalam kenangan itu, apalagi dengan orang yang sama.
Comments
Post a Comment