Posts

Showing posts from 2018

Dekap Kisah

Image
Dalam satu hari yang terasa sama, namun kian menjauh. Menggenapi tapak kaki kita pada semesta, Menjadikan aku perempuan yang selalu berusaha bahagia, Sebab dalam doa, kurapalkan sejuta semoga perihal kita yang dijauhkan segala duka. Jadilah seperti yang sama-sama kita mau. Menjadi apapun yang saling seirama. Membentuk persepsi yang sama, meski kepala kita berbeda. Bertemanlah dengan ramai, Jangan sepertiku. Sepi tidak menuntut untuk merasa bahagia. // Mari kita berkhayal sebentar, Membentuk pola-pola dalam pikir yang menggemaskan. Kita duduk menikmati film penuh makna, memakan eskrim, juga menertawakan gurauan-gurauan yang melengkapi kisah kita. Sepertinya, aku harus membuat sesuatu. Makanan penuh cinta untukmu. Aku berikan pilihan. Kita nikmati waktu, atau secangkir teh hangat dengan peluk? Apapun ; asal denganmu. Masih membayangkan lagi? Rupanya, kita telah berpindah daritadi. Hanya ada jendela yang menghadap laut lepas. Semesta yang menguning, dan angin ya...

Perihal perencanaan

Hidup itu pilihan. Ada yang memilih hidup berdua untuk menua bersama. Ada yang memilih menemukan bahagia-nya sendiri. Ada yang memilih untuk dengan segera menuju pernikahan. Ada yang memilih menyelesaikan segala rencana-rencana perihal mimpi yang memaksa segera diwujudkan. Semua hal itu, tidak ada yang menjadi masalah. Terkadang, masalah itu datang hanya dari pikiran. Manusia itu egois, oke. Dilahirkan memang seperti itu. Hanya saja, sebagian dari manusia lain bisa menahan untuk tidak mengatakan apapun yang ingin dikatakan. Simpan setiap kalimatmu untuk hal-hal yang baik, jika dirasa tidak perlu dikatakan maka membisu lah untuk sesaat. Itu sungguh membantu. Sekali lagi, hidup adalah jutaan proses yang tidak akan pernah dapat di protes. Pernikahan bukanlah perihal menyatukan dua hati menjadi selayaknya saling memiliki. Melainkan, dua ego, dua pandangan, dua kepala, dan yang terpenting adalah dua keluarga. Banyak yang telah merasa mampu. Atau bahkan dipaksa merasa ...

Mentari dan Bintang yang dirindukan

Ada sebuah mentari yang lebih terang sinarnya, terjaga sepanjang hari tanpa jeda, tanpa langit berwarna abu-abu yang mungkin terasa dingin, hanya ada rasa hangat, seperti senyummu kemarin. Aku menyusurinya, mencari tempat paling nyaman untuk menemui mentari dengan sangat dekat. Rupanya, ia memang selalu berada di dekatku, dalam terangnya ia menyinari setiap hariku dengan penuh kasih, kehangatan nya menjagaku dari awan yang mungkin saja menumpahkan air mata melihat kesedihanku, mentari itu ada untuk melindungiku. Mari, tinggalkan perihal mentari. Aku menemukan satu yang lebih indah untuk ku kagumi, bintang malam ini yang paling terang. Sinarnya seperti mengutarakan sesuatu. Sebentar, aku mendengarnya. Ia menyampaikan rasa rindu dari seseorang. Itu kamu. Aku juga, merindumu tanpa jeda. Pada sela-sela jendela, aku melihat bintang itu. Aku bercerita, bahwa rindu itu selalu tahu kemana ia menuju, dan aku tahu bahwa ia akan sampai menujumu. Beberapa pertemuan hanya menghidup...

Bintang Berwana Jingga

Selamat malam, bintang yang paling terang. Kunamai kamu Jinggaku. Jika kamu penasaran, kenapa kunamai kamu Jinggaku, sini kuberitahu; Sejak dulu, saat aku baru mengenali tata surya, aku hanya tertuju pada satu pusat yang mampu mengalihkan pandanganku, yaitu Bintang. Aku menyukai Bintang yang paling terang, sebab ia dikelilingi semesta yang baik, meski dalam gelap sinarnya mampu mengindahkan angkasa raya. Melihatmu, seperti kali pertama aku menemukan Bintang yang paling terang. Semesta yang mengenalkanku pada tatap teduhmu yang menenangkan. Pada setiap gelap yang menakutkan, kini aku mulai berani membuka mata. Sebab aku percaya, Bintang pasti akan mengindahkan kegelapan yang sempurna. Kali ini, bukan perihal menerangi. Bintang berwarna Jingga yang aku miliki, hanya tercermin dari hangat tatapmu dan teduh senyummu. Lalu, apa kamu masih penasaran kenapa kusebut kamu Jinggaku? Jingga adalah warna kesukaanku, saat semesta menampilkan keindahan yang sempurna, tergamba...

Pagi dan Sebuah Coklat Darimu

Pagi itu terasa lebih manis. Bukan karena melihat tatapnya yang menenangkan seperti biasanya, kali ini berbeda. Bukan perihal coklat digenggaman yang baru saja ia berikan. Tapi, lebih dari itu. Sebuah pengakuan. Ia malu-malu mengumpat dibalik senyum yang menggemaskan, sebentar-sebentar matanya mencuri pandang menikmati senyumku, kali ini aku merasa lebih cantik ketika melihat matanya yang berbinar mengamati setiap lekuk dalam wajahku. Aku semakin ingin tersenyum semanis mungkin, membiarkannya menikmati senyumku lebih lama. Hingga tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu yang membuatku ingin memeluknya saat itu juga, sebuah coklat. Sederhana memang, siapapun bisa memberikan untuk yang terkasih. Namun, aku begitu bahagia sekali. Rasanya, aku tidak pernah memimpikan ia yang berada di depanku berlaku semanis itu hanya untuk membuat senyumku kembali. Terima kasih, aku begitu bahagia hanya dengan menatapmu, kali ini bertambah bahagiaku kala aku menerima coklat darimu. Sebuah ...

Teruntukmu, Jingga.

Teruntukmu, seseorang yang nanti pada saatnya akan menjadi satu-satunya pasangan hidup untuk menemaniku dan memilihku menjadi yang terakhir. Kupercayakan setiap peluh pada bahumu, Kutitipkan setiap rindu pada waktumu, Kuberikan setiap tawa bahagia pada hari-harimu, Kupanjatkan setiap doa untuk mendukungmu, Kujadikan kamu apapun yang bisa ku bagi setiap detik pada hidup. Tawa bahagia, air mata kesedihan, masalah, kekuatan, kepercayaan, kesetiaan, kesabaran dan keikhlasan pada apapun perihal tujuan kita. Ketika aku memilihmu, berarti aku mempercayaimu. Ketika aku bersamamu, berarti aku bersiap mendampingimu. Ketika aku memutuskan hidup bersamamu, berarti aku menerima kekuranganmu. Ketika saat itu tiba, jadilah teman hidup yang paling baik, paling pengertian, paling menyayangi, paling tulus mencintai, paling tidak; jangan pernah berpaling. Aku mencintai seseorang sepertimu, seseorang yang ketika hanya menatap matamu aku bisa melihat setiap bayangan perihal masa depan ...

Semesta Untuk Jingga

Sepertinya aku harus mulai berterimakasih pada semesta. Sebab ia dengan sempurnanya mempertemukan perihal kita. Perihal-perihal sederhana yang membuatku dengan mudah jatuh cinta, pada setiap apapun yang ia gunakan, pada setiap apapun yang ia katakan, pada setiap tatapan, pada setiap pelukan, pada setiap senyuman, dan pada setiap kejutan-kejutan sederhana yang membuatku layaknya seperti perempuan yang sedang berada diatas angin, di bawa terbang menuju angkasa, diperlihatkan keindahan dan pesona cakrawala, bersama hanya kita berdua. Berkali-kali aku ingin mengutarakan, aku mencintai takdir tentang kita. Setiap apa yang kita lakukan tidak pernah tidak bermakna, sekalipun hanya saling menatap mata. Dulu, aku begitu penasaran bagaimana cinta bekerja. Namun, kali ini aku telah mengerti, begitu mengerti sampai akhirnya aku tidak lagi perlu mencari tahu bagaimana cinta bekerja, bagaimana cinta dapat menyatukan kedua rasa, bagaimana cinta menguatkan untuk selalu percaya, sebab itu kamu ma...

Temui aku, disini Jingga-ku

Malam semakin larut, Hujan menggenangi hati yang sepi, tanpa kehadiran pujaan hati. Dimana ia berada, masihkah ingat bahwa aku ada. Sepertinya ia mulai lupa peran aku sebagai apa. Tapi, tak akan aku biarkan begitu saja. Apa yang telah menjadi milikku, akan selalu ku perjuangkan untuk tetap bersamaku. Aku percaya, hidup setelah mencapai tujuan bukanlah akhir. Perjuangan tetap harus dilakukan, terlebih sebuah pengertian. Terkadang, rasa cemburu ku hanya untuk melihatmu merasa bersalah lalu mencoba memperbaiki agar aku kembali percaya bahwa; disini, hanya aku. Terkadang juga, rasa marah ku hanya untuk melihat mu mencari apa kesalahan yang telah membuat ku menjadi berbeda, meski kamu tahu bahwa bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap mencintaimu seperti biasanya; dengan caraku, sepenuh hati untukmu. Aku ingin menciptakan kenangan perihal kita, tidak hanya mengenai kisah-kisah romantis yang terukir dalam perjalanan menuju tempat terindah yang lain, sebab kesedihan selalu saja men...

Imajinasi Rasa Pada Jingga

Pada malam ke dua puluh tiga di bulan juni. Aku merahasiakan imajinasi-imajinasi rasa yang mengepung membentuk rindu, dengan menggenapkan seluruh kepercayaan, aku ambruk dalam dekapmu , mencintai dengan rapuh, aku menyayangi hujan yang mengiringi waktu kala itu, sebab ia terlalu baik, membuat candu , selalu saja kamu, memulai semua percaya yang mengikis ragu . Terimakasih , pada waktu kala itu.  Sebab ia membawaku menujumu, olehmu aku merasa tak perlu mencari kembali. Jika bisa, aku ingin membuat sebuah kata baru, sebab bahagia saja tidak cukup mewakilkan. Aku lebih dari bahagia , lebih dari menerbangi angkasa, menembus jutaan cakrawala. Pada ombak, mencintaimu lebih dari membuatku tenggelam . Sepertinya aku jatuh, pada rasa percaya yang utuh. Teruntuk jingga-ku Aman tenang jiwa yang lemah Jutaan rindu mengepung Menjadi langkah Terarah Dengan warnamu, aku nyata Menjadi serpihan indah Tanpa luka mesra Disini Disam...

Teruntuk, kamu.

Aku suka melihatmu berada di depanku, Aku suka melihatmu tersenyum, Meski aku tahu rindu akan kembali menggebu. Sungguh, Menyebalkan sekali, ketika rindu ini tidak pernah habis. Teruntuk, kamu. Terima kasih telah hadir, telah menggenapkan untuk memberi, telah menyatukan untuk mencintai, telah peduli, dan berbagai telah yang lainnya. Terima kasih pernah ada, pernah membuatku merasa begitu bahagia dengan perlakuan-perlakuan sederhana, pernah membuatku merasa begitu ingin hidup lebih lama untuk menemani kamu sampai tua, pernah membuatku merasa berharga karena dicintai kamu dengan sebegitunya, dan berbagai pernah yang lainnya. Berkali-kali kita saling mengerti, saling mempercayai, saling mendukung, saling membahagiakan, dan yang terpenting saling mencintai. Aku mencintai takdir tentang kita, sebuah proses yang tidak perlu di protes. Denganmu, aku mempelajari banyak hal. Sebuah proses adalah yang terpenting dalam mencapai tujuan. Sebab segala sesuatu nya bermula da...

Semua Tentang Kita

Aku ingin menulis kisahnya dengan hati-hati. Tanpa luka, tanpa air mata. Hanya ada cerita bahagia yang tercipta. Aku ingin sekali menjadi satu-satunya perempuan yang egois, yang hanya ingin dijadikan kamu nomor satu, yang hanya ingin selalu diberi perhatian lebih, dan yang terpenting menjadi sesuatu yang selalu kamu prioritaskan. Aku ingin sekali menjadi perempuan yang pencemburu. Membenci hal-hal yang membuatmu tersenyum selain denganku. Hanya saja, pada akhirnya aku menyadari bahwa  mencintai adalah  bahagiamu yang selalu aku ingin lihat meski bukan karenaku. Aku ingin menjadi satu-satunya teman yang akan kamu bagi sisa waktumu untuk dihabiskan bersamaku. Menjadi teman bermainmu, menjadi teman bertengkarmu, menjadi teman berbagi keluh kesahmu, menjadi teman berbagi tawamu, menjadi teman dalam dukamu, dan yang terpenting menjadi teman hidupmu. Semua tentang kita. Aku ingin mencintaimu dengan sepenuh hati. Tanpa keraguan-keraguan yang tercipta karena ketidaktahuan,...

Aku, Tempat Bernama Rumah.

Sebenarnya aku ingin saja tertawa terbahak-bahak saat membaca itu. Tapi rasanya, aku seperti menipu diri. Lalu aku terdiam sebentar. Mencoba menenangkan diri. Rasanya, aku tidaklah perlu bersusah payah mencari kebenaran yang terjadi. Aku bisa saja meminta penjelasan, hanya saja aku terlalu takut tidak bisa menerima dengan lapang dada. Sepertinya aku tahu, ini sudah berulang kali kita bahas. Tapi rasanya masih saja sama, menyesakkan. Aku berkali-kali meyakini diri atas sebuah kalimat yang berulang kali aku ucap pada diri sendiri "mencintai seseorang tidak harus menuntut melupakan masa lalunya". Aku mudah saja mengingatnya, tapi rasanya begitu sulit ketika harus aku menghadapinya sendirian. Lalu aku harus bagaimana? Mencoba tetap baik-baik saja meskipun aku sedang tidak baik-baik saja. Lagipula, meski aku menuntut untuk meluapkan semua patah yang dikarenakan olehmu, aku tetap tidak bisa memungkiri bahwa ; aku masih akan tetap mencintai mu. Aku ingin egois, tapi rasanya ...

Perihal Waktu dan Masa Lalu

Boleh kunamakan ini tanpa judul? Sebab begitu banyak yang ingin aku bagi disini. Hari ini, aku berkali-kali mendapat kejutan kebahagiaan. Ada yang membuatku tertawa tanpa henti, Ada yang membuatku hanya senyum-senyum sendiri dalam hati, Ada juga yang membuat aku begitu bahagia hingga rasanya ingin menangis. // Ku selipkan tawa Diantara rasa seperti senja Ku harap begini adanya Tidak hanya sebentar saja Sini, ku ajak kau tertawa Menepis cerita yang pernah ada Mari, kita tulis cerita bersama Tanpa luka, tanpa duka // Aku ingin mengulang percakapan tentang kita, Tentang sepasang hati yang memulai asa pada cinta. Aku berada diantara bahagia tanpa luka, meski aku mengerti tidak selamanya bahagia itu tercipta. Akan ada suatu masa dimana duka akan mengajarkan betapa berharganya bahagia. Begini saja, menjelaskan ‘aku mencintaimu’ tidak semudah ketika kamu mengucapnya berkali-kali pada setiap malam sebelum tidur. Ada hal-hal dimana perlakuan ...

Tentang Puisi

Sajak-sajak cinta yang ku tulis Menepikan rindu yang tak jua tersampaikan Biar aku yang teriris Sebab kamu yang memegang belatinya bukan? Rindu ini mengikis waktu Bukan jarak Padahal aku ingin bertemu Bukan ingin sekedar mengelak Aku bertanya cinta Pada puing-puing kenangan kita Bukan mengadu memeluk asa Hanya saja aku ingin tahu kenapa? Katanya, perempuan itu hari-harinya penuh rindu. Perempuan itu penuh ragu. Sehari bilang rindu, sehari seolah tak peduli, padahal ingin bertemu. Sekalinya dihampiri, seolah tidak menerima tamu. Ada yang harus disimpan sendirian untuk menjaga agar tetap baik-baik saja. Katanya, perempuan itu tangguh. Perempuan itu selalu kuat menunggu. Nyatanya, tidak pernah ada yang sanggup menahan cemburu. Sekalinya ditanya, seolah memendam rindu. Beberapa hal harus sampai pada yang di tuju meski tidak mencoba memberi tahu. Puisi itu hebat Ia selalu mampu menyalurkan rinduku Meski tidak pe...

Karena Itu Kamu

Teruntuk, kesenangan-ku. Pertama-tama izinkan aku mengucapkan banyak terima kasih. Atas hal-hal yang telah ada, Atas hal-hal yang telah terlewati, Mungkin juga, Atas hal-hal yang masih kau rencanakan. Rasanya, aku baru saja mengubur sepiku kemarin. Tapi hari ini, aku merasa begitu tenang dalam dekapmu. Rasanya, aku baru saja menutup luka yang pernah ada. Tapi hari ini, denganmu aku merasa aku tak perlu kembali takut untuk memulai kembali. Rasanya, aku baru saja berhenti mengingat yang lain. Tapi hari ini, aku merasa begitu telah berlari jauh meninggalkan yang lalu. Ntah karena memang rasa ku yang sudah kembali utuh untukmu, ntah hangat pelukmu terasa tenang yang membuat aman, atau memang rasa nyaman ini tidak pernah dapat terdefinisikan. Aku percaya, karena itu kamu. Hai kesenangan-ku. Aku selalu tertawa ketika hanya mendengar nama mu. Ntah berapa banyak senyum yang aku sembunyikan saat aku merasa begitu dibahagiakan olehmu. Tetaplah begini, jangan menghilang...

Sebuah Awal, atau Sebuah Akhir?

Aku menaruh harap pada keyakinan yang membuatku tenggelam. Seolah, semua fiksi yang aku karang adalah nyata. Sebagian lain menyeru untuk diklarifikasi. Nyatanya, aku masih terbuai dalam arus yang membuatku semakin menutup arah menuju permukaan. Aku menulis pada kisah yang terjadi dengan nyata. Hanya saja, sebagian orang lupa bahwa penulis bisa saja sedang mencoba membunuh dalam karya-nya. Sebuah kisah yang dikarang sedemikian tinggi lalu dibuatnya jatuh dengan hanya ingin melihat siapa yang akhirnya membuatnya kembali berdiri. Sulit bukan memahami isi sebuah cerita yang alurnya dapat ditebak namun maksudnya tidak terdefinisikan. Baiklah, begitu rasanya menerka-nerka sendirian, mencari kepastian namun tidak ingin mengusik penjelasan. Sebab, beberapa hal memang lebih baik tidak di ketahui. Terkadang, menjadi tidak mengetahui apapun lebih menenangkan. Sebenarnya, saat ini... Aku ingin mengadu pada senja. Menceritakan bagaimana rasanya menunggu terang kala gelap dengan ...

Perihal Rindu, Menunggu dan Kamu

Mencintai seseorang, tidaklah menuntut untuk melupakan masa lalu-nya. Bukankah begitu? Apa yang perlu di khawatirkan lagi? Bukankah ketika sudah menjadi masa lalu, itu berarti dia telah memilih untuk melaluinya daripada mempertahankannya. Bukankah ketika sudah menjadi masa lalu, itu berarti dia telah memilih untuk meninggalkan dan menjemput sosok lain yang berada di masa depan. Apalagi yang perlu dirisaukan? Perihal keraguan, tidak semua manusia dapat menentukan pilihan dengan cepat. Cepat, atau lambat.. tentu tidak menjamin akan tepat. Hanya saja, banyak keraguan yang membuat kehilangan. Ada yang sabar menunggu, Ada yang tidak bisa menunggu, Ada yang harus menunggu, Ada yang tidak ingin menunggu. Hidup adalah soal pilihan-pilihan yang sulit. Sulit bukan berarti tidak bisa dipilih, bukan? Ada batas yang ditentukan setiap hati yang disudutkan perihal menunggu. Ada yang siap dengan kehilangan, Ada yang siap dengan pengkhianatan, Ada yang siap dengan menjemput ...

Sayang,

Aku tak apa begini saja. Izinkan aku memberitahumu satu hal. Aku sedang bahagia. Begitu bahagia, hingga aku lupa bahwa aku pernah terluka. Teruslah seperti ini, jangan hanya sebentar, lebih lama lagi, hingga aku siap terluka lagi. Namun, aku tidak akan pernah memberitahumu ketika aku sudah siap untuk terluka kembali. Sayang, aku tak apa begini saja. Aku tak apa hanya menjadi definisi nyaman menurutmu, tidak dimiliki, bahkan tidak kamu bagi hatimu--yang telah lama sepi. Sayang, lihatlah. Aku ada disini, telah siap dan akan menyanggupi semua permintaan untuk membuatmu tidak merasa bosan berada di sisiku. Sayang, aku tidak peduli apakah kita hanya teman atau bahkan hanya pemeran pengganti. Ketika bersamamu, aku melupakan semua luka yang pernah digoreskan oleh yang lain. Sebab, itu melebihi apapun. Sayang, banyak hal yang ingin aku pertanyakan. Hingga kini, aku bukan tidak berani menanyakan langsung, hanya saja aku belum berani mendengar jawabannya. Sayang, aku mencintaimu. ...

Aku ingin

Hari ini, pada hari keempat di bulan April. Aku kembali menemukan sepotong rasa yang pernah hilang. Kali ini, ku beritahu bahwa rasa itu telah utuh. Menjelma menjadi rasa yang memenuhi hati hingga sesak. Tidak ada celah lagi untuk memberikan ruang pada yang lain. Bagaimana rasanya dicintai denganku? Dengan utuh, dengan yang-hanya kamu. Malam-malam panjang kini berubah menjadi senyum yang merekah, setiap kali aku mengingat apa yang pernah dilakukan perihal kita. Aku tidak menyesal karena jam tidurku menjadi tidak teratur, sebab aku menghabiskan dingin malam dengan-mu yang menjadikan ruang sepi menjadi terisi. Terima kasih, untuk segala hal yang membuatku nyaman berlama-lama denganmu. Untuk segala rasa bahagia yang ketika aku hanya melihatmu. Untuk segala harum yang membuatku ingin begitu memelukmu. Aku mencintai rasa yang tak pernah habis walau ku tepis. Aku mencintai kamu yang tak pernah bisa kumiliki walau mungkin aku hanya asing. Aku mencintai kamu. Mencintai sel...

Bahagia bersamaku, ya !

Bagaimana rasa nya? Apakah sama? Atau hanya aku sendirian berkalut rasa pada asa. Apapun itu, kunikmati setiap detik yang tergambar di depan mata. Aku mencintai setiap perjalanan bersama orang yang tepat. Denganmu, kurasa begitu tepat. Hanya saja, rasa kita sebatas bertemu di jembatan antar teman. Masing-masing dari kita belum berani menyebrangi arus sungai menuju tempat yang lain ; sebuah komitmen. Sebab, ada beberapa hal yang belum terselesaikan dengan baik. Ntah dengan masa lalu, atau masa depan yang belum berani untuk memulai pijakan. Aku mencintai rasa yang tak pernah habis walau ku tepis. Terkadang, rasa acuhmu mengganggu untuk membuat rindu mengelak, sebenarnya hanya aku saja yang belum siap terluka kembali untuk kepercayaan yang sama. Sebenarnya, bukan salahmu juga. Sebab yang mematahkan hati adalah dia yang telah pergi. Hanya saja, terkadang rasa ragu itu melewat mengetuk luka yang pernah digoreskan oleh yang lain, walaupun tetap saja aku tidak bisa menutupi ...

Rumah

Image
Tempat itu bernama Rumah. Dimana kisah-kisah yang tak hanya bahagia tercipta. Duka yang menghadirkan tawa karena kehangatan yang berada disana. Tawa yang menciptakan air mata karena kebersamaan yang mengikat kita. Rumah adalah tempat yang mengingatkan arti pulang. Tidak selalu berbentuk sebuah bangunan kokoh bertingkat dengan taman, terlebih air mancur atau ayunan yang mengingatkan masa kecil. Lebih dari itu, kenyamanan yang terlindungi. Kehangatan yang selalu tercipta disana, satu bahtera ; bahagia. Rumah adalah tempat berteduh dari segala gundah dan lara. Tidak bernyawa, tidak terlihat bentuknya, hanya kehangatan yang terasa bagi setiap insan yang selalu ingin pulang. Begitu sempitnya dunia jika Rumah hanya diartikan sebagai sebuah bangunan yang berdiri kokoh untuk melindungi dari panas dan hujan, begitu kecilnya pemikiran mengenai definisi Rumah jika hanya diartikan sebagai sebuah tempat dimana manusia-manusia yang bernyawa dan memiliki hati untuk saling menya...

Tentang Hujan, Dia, dan Cinta Yang Utuh

Katanya, setiap bahagia itu nyata ; pada cinta. Rupanya, itu hanya sekedar kata-kata.  Aku belum pernah merasakan kebahagiaan yang nyata dari cinta. Sebagian besar hanya kumiliki disaat-saat pertama. Setelahnya, aku kembali menemukan kehilangan. Lalu, apa lagi yang kutemui pada kehilangan ; cinta yang lain. Jujur saja, aku lebih menyukai menggunakan waktu-ku untuk menikmati hujan yang selalu turun meski ia tahu bagaimana rasanya jatuh berkali-kali, daripada aku harus menikmati setiap detik dengan memaksakan cinta yang tidak selalu kudapatkan dengan utuh. Aku penasaran, bagaimana cinta bekerja.     Sebenarnya yang selama ini kujalani bukanlah tetap dalam kesendirian? Cinta ada bukan untuk menguatkan, melainkan membuat luka baru pada perjalanannya. Detik demi detik kulalui dengan payah. Aku menghabiskan waktu dengan mencintai orang yang salah. Waktu tidak akan pernah tepat bagi siapapun yang tidak ingin memulai. Selama ini, aku hanya menghind...