Posts

Showing posts from June, 2018

Semesta Untuk Jingga

Sepertinya aku harus mulai berterimakasih pada semesta. Sebab ia dengan sempurnanya mempertemukan perihal kita. Perihal-perihal sederhana yang membuatku dengan mudah jatuh cinta, pada setiap apapun yang ia gunakan, pada setiap apapun yang ia katakan, pada setiap tatapan, pada setiap pelukan, pada setiap senyuman, dan pada setiap kejutan-kejutan sederhana yang membuatku layaknya seperti perempuan yang sedang berada diatas angin, di bawa terbang menuju angkasa, diperlihatkan keindahan dan pesona cakrawala, bersama hanya kita berdua. Berkali-kali aku ingin mengutarakan, aku mencintai takdir tentang kita. Setiap apa yang kita lakukan tidak pernah tidak bermakna, sekalipun hanya saling menatap mata. Dulu, aku begitu penasaran bagaimana cinta bekerja. Namun, kali ini aku telah mengerti, begitu mengerti sampai akhirnya aku tidak lagi perlu mencari tahu bagaimana cinta bekerja, bagaimana cinta dapat menyatukan kedua rasa, bagaimana cinta menguatkan untuk selalu percaya, sebab itu kamu ma...

Temui aku, disini Jingga-ku

Malam semakin larut, Hujan menggenangi hati yang sepi, tanpa kehadiran pujaan hati. Dimana ia berada, masihkah ingat bahwa aku ada. Sepertinya ia mulai lupa peran aku sebagai apa. Tapi, tak akan aku biarkan begitu saja. Apa yang telah menjadi milikku, akan selalu ku perjuangkan untuk tetap bersamaku. Aku percaya, hidup setelah mencapai tujuan bukanlah akhir. Perjuangan tetap harus dilakukan, terlebih sebuah pengertian. Terkadang, rasa cemburu ku hanya untuk melihatmu merasa bersalah lalu mencoba memperbaiki agar aku kembali percaya bahwa; disini, hanya aku. Terkadang juga, rasa marah ku hanya untuk melihat mu mencari apa kesalahan yang telah membuat ku menjadi berbeda, meski kamu tahu bahwa bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap mencintaimu seperti biasanya; dengan caraku, sepenuh hati untukmu. Aku ingin menciptakan kenangan perihal kita, tidak hanya mengenai kisah-kisah romantis yang terukir dalam perjalanan menuju tempat terindah yang lain, sebab kesedihan selalu saja men...

Imajinasi Rasa Pada Jingga

Pada malam ke dua puluh tiga di bulan juni. Aku merahasiakan imajinasi-imajinasi rasa yang mengepung membentuk rindu, dengan menggenapkan seluruh kepercayaan, aku ambruk dalam dekapmu , mencintai dengan rapuh, aku menyayangi hujan yang mengiringi waktu kala itu, sebab ia terlalu baik, membuat candu , selalu saja kamu, memulai semua percaya yang mengikis ragu . Terimakasih , pada waktu kala itu.  Sebab ia membawaku menujumu, olehmu aku merasa tak perlu mencari kembali. Jika bisa, aku ingin membuat sebuah kata baru, sebab bahagia saja tidak cukup mewakilkan. Aku lebih dari bahagia , lebih dari menerbangi angkasa, menembus jutaan cakrawala. Pada ombak, mencintaimu lebih dari membuatku tenggelam . Sepertinya aku jatuh, pada rasa percaya yang utuh. Teruntuk jingga-ku Aman tenang jiwa yang lemah Jutaan rindu mengepung Menjadi langkah Terarah Dengan warnamu, aku nyata Menjadi serpihan indah Tanpa luka mesra Disini Disam...

Teruntuk, kamu.

Aku suka melihatmu berada di depanku, Aku suka melihatmu tersenyum, Meski aku tahu rindu akan kembali menggebu. Sungguh, Menyebalkan sekali, ketika rindu ini tidak pernah habis. Teruntuk, kamu. Terima kasih telah hadir, telah menggenapkan untuk memberi, telah menyatukan untuk mencintai, telah peduli, dan berbagai telah yang lainnya. Terima kasih pernah ada, pernah membuatku merasa begitu bahagia dengan perlakuan-perlakuan sederhana, pernah membuatku merasa begitu ingin hidup lebih lama untuk menemani kamu sampai tua, pernah membuatku merasa berharga karena dicintai kamu dengan sebegitunya, dan berbagai pernah yang lainnya. Berkali-kali kita saling mengerti, saling mempercayai, saling mendukung, saling membahagiakan, dan yang terpenting saling mencintai. Aku mencintai takdir tentang kita, sebuah proses yang tidak perlu di protes. Denganmu, aku mempelajari banyak hal. Sebuah proses adalah yang terpenting dalam mencapai tujuan. Sebab segala sesuatu nya bermula da...

Semua Tentang Kita

Aku ingin menulis kisahnya dengan hati-hati. Tanpa luka, tanpa air mata. Hanya ada cerita bahagia yang tercipta. Aku ingin sekali menjadi satu-satunya perempuan yang egois, yang hanya ingin dijadikan kamu nomor satu, yang hanya ingin selalu diberi perhatian lebih, dan yang terpenting menjadi sesuatu yang selalu kamu prioritaskan. Aku ingin sekali menjadi perempuan yang pencemburu. Membenci hal-hal yang membuatmu tersenyum selain denganku. Hanya saja, pada akhirnya aku menyadari bahwa  mencintai adalah  bahagiamu yang selalu aku ingin lihat meski bukan karenaku. Aku ingin menjadi satu-satunya teman yang akan kamu bagi sisa waktumu untuk dihabiskan bersamaku. Menjadi teman bermainmu, menjadi teman bertengkarmu, menjadi teman berbagi keluh kesahmu, menjadi teman berbagi tawamu, menjadi teman dalam dukamu, dan yang terpenting menjadi teman hidupmu. Semua tentang kita. Aku ingin mencintaimu dengan sepenuh hati. Tanpa keraguan-keraguan yang tercipta karena ketidaktahuan,...

Aku, Tempat Bernama Rumah.

Sebenarnya aku ingin saja tertawa terbahak-bahak saat membaca itu. Tapi rasanya, aku seperti menipu diri. Lalu aku terdiam sebentar. Mencoba menenangkan diri. Rasanya, aku tidaklah perlu bersusah payah mencari kebenaran yang terjadi. Aku bisa saja meminta penjelasan, hanya saja aku terlalu takut tidak bisa menerima dengan lapang dada. Sepertinya aku tahu, ini sudah berulang kali kita bahas. Tapi rasanya masih saja sama, menyesakkan. Aku berkali-kali meyakini diri atas sebuah kalimat yang berulang kali aku ucap pada diri sendiri "mencintai seseorang tidak harus menuntut melupakan masa lalunya". Aku mudah saja mengingatnya, tapi rasanya begitu sulit ketika harus aku menghadapinya sendirian. Lalu aku harus bagaimana? Mencoba tetap baik-baik saja meskipun aku sedang tidak baik-baik saja. Lagipula, meski aku menuntut untuk meluapkan semua patah yang dikarenakan olehmu, aku tetap tidak bisa memungkiri bahwa ; aku masih akan tetap mencintai mu. Aku ingin egois, tapi rasanya ...