Temui aku, disini Jingga-ku

Malam semakin larut,
Hujan menggenangi hati yang sepi, tanpa kehadiran pujaan hati.

Dimana ia berada, masihkah ingat bahwa aku ada. Sepertinya ia mulai lupa peran aku sebagai apa. Tapi, tak akan aku biarkan begitu saja. Apa yang telah menjadi milikku, akan selalu ku perjuangkan untuk tetap bersamaku.

Aku percaya, hidup setelah mencapai tujuan bukanlah akhir. Perjuangan tetap harus dilakukan, terlebih sebuah pengertian.

Terkadang, rasa cemburu ku hanya untuk melihatmu merasa bersalah lalu mencoba memperbaiki agar aku kembali percaya bahwa; disini, hanya aku.

Terkadang juga, rasa marah ku hanya untuk melihat mu mencari apa kesalahan yang telah membuat ku menjadi berbeda, meski kamu tahu bahwa bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap mencintaimu seperti biasanya; dengan caraku, sepenuh hati untukmu.

Aku ingin menciptakan kenangan perihal kita, tidak hanya mengenai kisah-kisah romantis yang terukir dalam perjalanan menuju tempat terindah yang lain, sebab kesedihan selalu saja menghiasi tiap-tiap jendela kebahagiaan.

Aku ingin memberimu penjelasan, perihal rasa-rasa yang lain. Aku hanya ingin diperhatikan. Bukan menuntutmu untuk menjadikanku yang pertama, sebab aku masih mempercayai bahwa jika pun aku bukanlah yang selalu dijadikan pertama, kamu akan tetap mencintai ku, bukan?

Maaf, jika aku egois. Sebab manusia memang selalu memiliki rasa egois menurutku.

Aku sudah menepisnya, berulang kali. Hanya saja, jika mengutarakannya akan membuat lebih baik, setidaknya aku hanya ingin membaginya, denganmu.

Bukankah kamu yang meminta untuk menjadikanmu apapun termasuk menceritakan segalanya agar kita tetap terhubung.

Aku ingin menyudahinya, malam pelik yang membuatku terusik.

Rasanya, ingin segera menemuimu lalu memelukmu tanpa jeda.

Membiarkan rasa-rasa rindu pulang menemui cinta.

Temui aku, disini jingga-ku.

Comments

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Sebelum usia 23

Semesta Untuk Jingga