Teruntuk, kamu.


Aku suka melihatmu berada di depanku,
Aku suka melihatmu tersenyum,
Meski aku tahu rindu akan kembali menggebu.
Sungguh,
Menyebalkan sekali,
ketika rindu ini tidak pernah habis.

Teruntuk, kamu.

Terima kasih telah hadir, telah menggenapkan untuk memberi, telah menyatukan untuk mencintai, telah peduli, dan berbagai telah yang lainnya.

Terima kasih pernah ada, pernah membuatku merasa begitu bahagia dengan perlakuan-perlakuan sederhana, pernah membuatku merasa begitu ingin hidup lebih lama untuk menemani kamu sampai tua, pernah membuatku merasa berharga karena dicintai kamu dengan sebegitunya, dan berbagai pernah yang lainnya.

Berkali-kali kita saling mengerti, saling mempercayai, saling mendukung, saling membahagiakan, dan yang terpenting saling mencintai.

Aku mencintai takdir tentang kita, sebuah proses yang tidak perlu di protes.

Denganmu, aku mempelajari banyak hal.
Sebuah proses adalah yang terpenting dalam mencapai tujuan.
Sebab segala sesuatu nya bermula dari sebuah usaha yang melewati berbagai macam ujian.

Seberapa kuat bertahan, atau seberapa kuat melupakan.

Pada takdir tentangmu, aku memilih yang pertama; bertahan.

Hingga pada akhirnya sebuah proses membawaku menuju tujuan akhir; memilikimu.

Lalu, aku kembali menyadari. Bahwa hidup setelah mencapai tujuan bukanlah sebuah akhir, melainkan kembali ke awal untuk memulai.

Denganmu, aku memantapkan diri untuk kembali memulai. Kamu mengenalkanku pada rasa yang terkadang aku tidak mengerti bisa sebegitunya; Mencintai tanpa alasan,  itulah jawabannya.

Teruntuk, kamu.

Tetaplah menjadi begitu, menjadi kamu yang aku rindukan setiap hari, menjadi kamu yang menyebalkan tapi amat kusayangi, menjadi kamu yang mencintaiku dengan sepenuh hati, menjadi kamu yang selalu ingin menjagaku karena memiliku, menjadi kamu yang terbaik untuk membuatku tidak pernah berpikiran untuk kembali mencari yang lain lagi, sebab aku telah menemukanmu.

Comments

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Sebelum usia 23

Semesta Untuk Jingga