Posts

Hati-hati di jalan

  Ada satu hal yang selalu mengikuti kemana arah langkah kakimu, kemanapun kamu pergi dan tempat apapun yang ingin kamu tuju. Sebuah rasa khawatir dan ketakutanmu itu sendiri, diam-diam secara tidak sadar ia sudah menggerogoti rasa percayamu bahkan terhadap dirimu sendiri. Kamu seolah berkata, kamu tidak sekuat baja, kamu lemah dan tidak mampu berdiri sendiri. Yang sebenar-benarnya terjadi adalah kamu tidak selemah itu, tubuhmu memiliki hak atas keberanianmu, kamu hanya ragu membuatnya tumbuh. Kamu hanya takut menghadapi kekhawatiranmu isi kepalamu sendiri. Kamu telanjur nyaman dan memilih untuk percaya pada ketakutanmu. Kamu memilih bersikukuh dengan ketidakpercayaan atas dirimu sendiri. Seperti perjalanan yang akan membawamu pergi, sejauh yang kamu belum pernah kira sebelumnya bisa sampai di tempat itu. Kamu selalu meyakini diri, dalam setiap perjalanan yang membawamu tumbuh, akan banyak kendala yang kau lewati, dan kamu merasa tidak mampu menghadapinya sendirian. K...

Sebelum usia 23

  Pada malam yang terasa kian panjang— sehabis hujan sejak sore tadi. Aku menemukan kesedihan yang tak kunjung reda meski langit telah berhenti menangis sejak tadi. Ku kira, semesta menemaniku untuk menikmati perasaan ini, ternyata, lagi-lagi aku hanya sendirian. Menikmati isi kepala yang semakin menggerogoti rasa percaya pada hidup yang katanya akan indah pada waktunya jika kita menjalaninya dengan baik-baik saja. Seperti dinginnya malam sehabis hujan, aku mencari hangatnya kasih dari yang tersayang. Aku meraba-raba perasaan tenang dari setiap lekuk wajahnya, mencari-cari perasaan teduh dari tatapan matanya. Aku tidak menemukannya sebab ia telah lebih dulu pamit. Aku menyiksa perasaan sendirian, dengan pikiran-pikiran yang tak bisa kukendalikan sendiri. Sampai hujan kembali turun saat aku menulis ini, perasaan tidak tahu harus berlaku seperti apalagi masih menjadi pertanyaan dalam benakku. Apakah menjadi jahat adalah jawabannya? Manusia seringkali bersimpuh pada tanah, memohon pad...

Jetcoaster 'Hidup'

Seberapa sering kamu berhenti melakukan sesuatu hanya karena merasa berbeda? Seberapa sering kamu berhenti mencoba sesuatu hanya karena mendengar kisah dari seseorang yang pernah gagal? Seberapa sering kamu berhenti berjuang hanya karena merasa akan berakhir sia-sia? Seberapa sering kamu mematahkan harapan diri sendiri lalu tak sadar tenggelam dalam pikiran sendiri? Seberapa sering... Sebuah kisah menarik kalian untuk kembali dan tidak lagi melanjutkan perjalanan. Begini, Semesta ingin memberikan pandangan lain. Bagaimana mungkin kalian bisa menentukan hal yang baik dan hal yang buruk dengan hanya memikirkannya? Bukankah mencobanya lalu gagal adalah lebih baik daripada tidak mencobanya sama sekali? Kata seseorang, nyaman itu jebakan. Nah, tidak ingin membuat hidupmu menjadi lebih seru? Jika kamu bisa memilih menaiki wahana jetcoaster di sebuah tempat wisata, dengan berbagai risiko yang bisa saja membuat mu terjatuh, atau bahkan mesin yang b...

Dekap Kisah

Image
Dalam satu hari yang terasa sama, namun kian menjauh. Menggenapi tapak kaki kita pada semesta, Menjadikan aku perempuan yang selalu berusaha bahagia, Sebab dalam doa, kurapalkan sejuta semoga perihal kita yang dijauhkan segala duka. Jadilah seperti yang sama-sama kita mau. Menjadi apapun yang saling seirama. Membentuk persepsi yang sama, meski kepala kita berbeda. Bertemanlah dengan ramai, Jangan sepertiku. Sepi tidak menuntut untuk merasa bahagia. // Mari kita berkhayal sebentar, Membentuk pola-pola dalam pikir yang menggemaskan. Kita duduk menikmati film penuh makna, memakan eskrim, juga menertawakan gurauan-gurauan yang melengkapi kisah kita. Sepertinya, aku harus membuat sesuatu. Makanan penuh cinta untukmu. Aku berikan pilihan. Kita nikmati waktu, atau secangkir teh hangat dengan peluk? Apapun ; asal denganmu. Masih membayangkan lagi? Rupanya, kita telah berpindah daritadi. Hanya ada jendela yang menghadap laut lepas. Semesta yang menguning, dan angin ya...

Perihal perencanaan

Hidup itu pilihan. Ada yang memilih hidup berdua untuk menua bersama. Ada yang memilih menemukan bahagia-nya sendiri. Ada yang memilih untuk dengan segera menuju pernikahan. Ada yang memilih menyelesaikan segala rencana-rencana perihal mimpi yang memaksa segera diwujudkan. Semua hal itu, tidak ada yang menjadi masalah. Terkadang, masalah itu datang hanya dari pikiran. Manusia itu egois, oke. Dilahirkan memang seperti itu. Hanya saja, sebagian dari manusia lain bisa menahan untuk tidak mengatakan apapun yang ingin dikatakan. Simpan setiap kalimatmu untuk hal-hal yang baik, jika dirasa tidak perlu dikatakan maka membisu lah untuk sesaat. Itu sungguh membantu. Sekali lagi, hidup adalah jutaan proses yang tidak akan pernah dapat di protes. Pernikahan bukanlah perihal menyatukan dua hati menjadi selayaknya saling memiliki. Melainkan, dua ego, dua pandangan, dua kepala, dan yang terpenting adalah dua keluarga. Banyak yang telah merasa mampu. Atau bahkan dipaksa merasa ...

Mentari dan Bintang yang dirindukan

Ada sebuah mentari yang lebih terang sinarnya, terjaga sepanjang hari tanpa jeda, tanpa langit berwarna abu-abu yang mungkin terasa dingin, hanya ada rasa hangat, seperti senyummu kemarin. Aku menyusurinya, mencari tempat paling nyaman untuk menemui mentari dengan sangat dekat. Rupanya, ia memang selalu berada di dekatku, dalam terangnya ia menyinari setiap hariku dengan penuh kasih, kehangatan nya menjagaku dari awan yang mungkin saja menumpahkan air mata melihat kesedihanku, mentari itu ada untuk melindungiku. Mari, tinggalkan perihal mentari. Aku menemukan satu yang lebih indah untuk ku kagumi, bintang malam ini yang paling terang. Sinarnya seperti mengutarakan sesuatu. Sebentar, aku mendengarnya. Ia menyampaikan rasa rindu dari seseorang. Itu kamu. Aku juga, merindumu tanpa jeda. Pada sela-sela jendela, aku melihat bintang itu. Aku bercerita, bahwa rindu itu selalu tahu kemana ia menuju, dan aku tahu bahwa ia akan sampai menujumu. Beberapa pertemuan hanya menghidup...

Bintang Berwana Jingga

Selamat malam, bintang yang paling terang. Kunamai kamu Jinggaku. Jika kamu penasaran, kenapa kunamai kamu Jinggaku, sini kuberitahu; Sejak dulu, saat aku baru mengenali tata surya, aku hanya tertuju pada satu pusat yang mampu mengalihkan pandanganku, yaitu Bintang. Aku menyukai Bintang yang paling terang, sebab ia dikelilingi semesta yang baik, meski dalam gelap sinarnya mampu mengindahkan angkasa raya. Melihatmu, seperti kali pertama aku menemukan Bintang yang paling terang. Semesta yang mengenalkanku pada tatap teduhmu yang menenangkan. Pada setiap gelap yang menakutkan, kini aku mulai berani membuka mata. Sebab aku percaya, Bintang pasti akan mengindahkan kegelapan yang sempurna. Kali ini, bukan perihal menerangi. Bintang berwarna Jingga yang aku miliki, hanya tercermin dari hangat tatapmu dan teduh senyummu. Lalu, apa kamu masih penasaran kenapa kusebut kamu Jinggaku? Jingga adalah warna kesukaanku, saat semesta menampilkan keindahan yang sempurna, tergamba...

Pagi dan Sebuah Coklat Darimu

Pagi itu terasa lebih manis. Bukan karena melihat tatapnya yang menenangkan seperti biasanya, kali ini berbeda. Bukan perihal coklat digenggaman yang baru saja ia berikan. Tapi, lebih dari itu. Sebuah pengakuan. Ia malu-malu mengumpat dibalik senyum yang menggemaskan, sebentar-sebentar matanya mencuri pandang menikmati senyumku, kali ini aku merasa lebih cantik ketika melihat matanya yang berbinar mengamati setiap lekuk dalam wajahku. Aku semakin ingin tersenyum semanis mungkin, membiarkannya menikmati senyumku lebih lama. Hingga tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu yang membuatku ingin memeluknya saat itu juga, sebuah coklat. Sederhana memang, siapapun bisa memberikan untuk yang terkasih. Namun, aku begitu bahagia sekali. Rasanya, aku tidak pernah memimpikan ia yang berada di depanku berlaku semanis itu hanya untuk membuat senyumku kembali. Terima kasih, aku begitu bahagia hanya dengan menatapmu, kali ini bertambah bahagiaku kala aku menerima coklat darimu. Sebuah ...

Teruntukmu, Jingga.

Teruntukmu, seseorang yang nanti pada saatnya akan menjadi satu-satunya pasangan hidup untuk menemaniku dan memilihku menjadi yang terakhir. Kupercayakan setiap peluh pada bahumu, Kutitipkan setiap rindu pada waktumu, Kuberikan setiap tawa bahagia pada hari-harimu, Kupanjatkan setiap doa untuk mendukungmu, Kujadikan kamu apapun yang bisa ku bagi setiap detik pada hidup. Tawa bahagia, air mata kesedihan, masalah, kekuatan, kepercayaan, kesetiaan, kesabaran dan keikhlasan pada apapun perihal tujuan kita. Ketika aku memilihmu, berarti aku mempercayaimu. Ketika aku bersamamu, berarti aku bersiap mendampingimu. Ketika aku memutuskan hidup bersamamu, berarti aku menerima kekuranganmu. Ketika saat itu tiba, jadilah teman hidup yang paling baik, paling pengertian, paling menyayangi, paling tulus mencintai, paling tidak; jangan pernah berpaling. Aku mencintai seseorang sepertimu, seseorang yang ketika hanya menatap matamu aku bisa melihat setiap bayangan perihal masa depan ...

Semesta Untuk Jingga

Sepertinya aku harus mulai berterimakasih pada semesta. Sebab ia dengan sempurnanya mempertemukan perihal kita. Perihal-perihal sederhana yang membuatku dengan mudah jatuh cinta, pada setiap apapun yang ia gunakan, pada setiap apapun yang ia katakan, pada setiap tatapan, pada setiap pelukan, pada setiap senyuman, dan pada setiap kejutan-kejutan sederhana yang membuatku layaknya seperti perempuan yang sedang berada diatas angin, di bawa terbang menuju angkasa, diperlihatkan keindahan dan pesona cakrawala, bersama hanya kita berdua. Berkali-kali aku ingin mengutarakan, aku mencintai takdir tentang kita. Setiap apa yang kita lakukan tidak pernah tidak bermakna, sekalipun hanya saling menatap mata. Dulu, aku begitu penasaran bagaimana cinta bekerja. Namun, kali ini aku telah mengerti, begitu mengerti sampai akhirnya aku tidak lagi perlu mencari tahu bagaimana cinta bekerja, bagaimana cinta dapat menyatukan kedua rasa, bagaimana cinta menguatkan untuk selalu percaya, sebab itu kamu ma...