Dekap Kisah
Dalam satu hari yang terasa sama, namun kian menjauh.
Menggenapi tapak kaki kita pada semesta,
Menjadikan aku perempuan yang selalu berusaha bahagia,
Sebab dalam doa, kurapalkan sejuta semoga perihal kita yang dijauhkan segala duka.
Jadilah seperti yang sama-sama kita mau.
Menjadi apapun yang saling seirama.
Membentuk persepsi yang sama, meski kepala kita berbeda.
Bertemanlah dengan ramai,
Jangan sepertiku.
Sepi tidak menuntut untuk merasa bahagia.
//
Mari kita berkhayal sebentar,
Membentuk pola-pola dalam pikir yang menggemaskan.
Kita duduk menikmati film penuh makna, memakan eskrim, juga menertawakan gurauan-gurauan yang melengkapi kisah kita.
Sepertinya, aku harus membuat sesuatu. Makanan penuh cinta untukmu.
Aku berikan pilihan.
Kita nikmati waktu, atau secangkir teh hangat dengan peluk?
Apapun ; asal denganmu.
Masih membayangkan lagi?
Rupanya, kita telah berpindah daritadi.
Hanya ada jendela yang menghadap laut lepas. Semesta yang menguning, dan angin yang sesekali meniupkan rambutku.
Kamu tersipu, mencoba memelukku dari belakang. Aku terpejam, menikmati setiap dekap yang menghangatkan.
Temui aku, dalam setiap raut wajah penuh binar bahagia maupun dalam tangis karena duka.
Aku berada di belakangmu bukan karena tidak ingin membebanimu.
Kamu hanya perlu tahu, bahwa ketika kamu lelah berjalan, ada aku yang selalu menjadi tempatmu pulang.
Kusudahi khayalan tadi,
Sampai bertemu pada semesta di pagi hari.
//
Aku mencintai.
Perihal kamu.
Tanpa terkecuali.
Menggenapi tapak kaki kita pada semesta,
Menjadikan aku perempuan yang selalu berusaha bahagia,
Sebab dalam doa, kurapalkan sejuta semoga perihal kita yang dijauhkan segala duka.
Jadilah seperti yang sama-sama kita mau.
Menjadi apapun yang saling seirama.
Membentuk persepsi yang sama, meski kepala kita berbeda.
Bertemanlah dengan ramai,
Jangan sepertiku.
Sepi tidak menuntut untuk merasa bahagia.
//
Mari kita berkhayal sebentar,
Membentuk pola-pola dalam pikir yang menggemaskan.
Kita duduk menikmati film penuh makna, memakan eskrim, juga menertawakan gurauan-gurauan yang melengkapi kisah kita.
Sepertinya, aku harus membuat sesuatu. Makanan penuh cinta untukmu.
Aku berikan pilihan.
Kita nikmati waktu, atau secangkir teh hangat dengan peluk?
Apapun ; asal denganmu.
Masih membayangkan lagi?
Rupanya, kita telah berpindah daritadi.
Hanya ada jendela yang menghadap laut lepas. Semesta yang menguning, dan angin yang sesekali meniupkan rambutku.
Kamu tersipu, mencoba memelukku dari belakang. Aku terpejam, menikmati setiap dekap yang menghangatkan.
Temui aku, dalam setiap raut wajah penuh binar bahagia maupun dalam tangis karena duka.
Aku berada di belakangmu bukan karena tidak ingin membebanimu.
Kamu hanya perlu tahu, bahwa ketika kamu lelah berjalan, ada aku yang selalu menjadi tempatmu pulang.
Kusudahi khayalan tadi,
Sampai bertemu pada semesta di pagi hari.
//
Aku mencintai.
Perihal kamu.
Tanpa terkecuali.
.
Semesta, 00:13 pagi.

Comments
Post a Comment