Posts

Showing posts from May, 2018

Perihal Waktu dan Masa Lalu

Boleh kunamakan ini tanpa judul? Sebab begitu banyak yang ingin aku bagi disini. Hari ini, aku berkali-kali mendapat kejutan kebahagiaan. Ada yang membuatku tertawa tanpa henti, Ada yang membuatku hanya senyum-senyum sendiri dalam hati, Ada juga yang membuat aku begitu bahagia hingga rasanya ingin menangis. // Ku selipkan tawa Diantara rasa seperti senja Ku harap begini adanya Tidak hanya sebentar saja Sini, ku ajak kau tertawa Menepis cerita yang pernah ada Mari, kita tulis cerita bersama Tanpa luka, tanpa duka // Aku ingin mengulang percakapan tentang kita, Tentang sepasang hati yang memulai asa pada cinta. Aku berada diantara bahagia tanpa luka, meski aku mengerti tidak selamanya bahagia itu tercipta. Akan ada suatu masa dimana duka akan mengajarkan betapa berharganya bahagia. Begini saja, menjelaskan ‘aku mencintaimu’ tidak semudah ketika kamu mengucapnya berkali-kali pada setiap malam sebelum tidur. Ada hal-hal dimana perlakuan ...

Tentang Puisi

Sajak-sajak cinta yang ku tulis Menepikan rindu yang tak jua tersampaikan Biar aku yang teriris Sebab kamu yang memegang belatinya bukan? Rindu ini mengikis waktu Bukan jarak Padahal aku ingin bertemu Bukan ingin sekedar mengelak Aku bertanya cinta Pada puing-puing kenangan kita Bukan mengadu memeluk asa Hanya saja aku ingin tahu kenapa? Katanya, perempuan itu hari-harinya penuh rindu. Perempuan itu penuh ragu. Sehari bilang rindu, sehari seolah tak peduli, padahal ingin bertemu. Sekalinya dihampiri, seolah tidak menerima tamu. Ada yang harus disimpan sendirian untuk menjaga agar tetap baik-baik saja. Katanya, perempuan itu tangguh. Perempuan itu selalu kuat menunggu. Nyatanya, tidak pernah ada yang sanggup menahan cemburu. Sekalinya ditanya, seolah memendam rindu. Beberapa hal harus sampai pada yang di tuju meski tidak mencoba memberi tahu. Puisi itu hebat Ia selalu mampu menyalurkan rinduku Meski tidak pe...

Karena Itu Kamu

Teruntuk, kesenangan-ku. Pertama-tama izinkan aku mengucapkan banyak terima kasih. Atas hal-hal yang telah ada, Atas hal-hal yang telah terlewati, Mungkin juga, Atas hal-hal yang masih kau rencanakan. Rasanya, aku baru saja mengubur sepiku kemarin. Tapi hari ini, aku merasa begitu tenang dalam dekapmu. Rasanya, aku baru saja menutup luka yang pernah ada. Tapi hari ini, denganmu aku merasa aku tak perlu kembali takut untuk memulai kembali. Rasanya, aku baru saja berhenti mengingat yang lain. Tapi hari ini, aku merasa begitu telah berlari jauh meninggalkan yang lalu. Ntah karena memang rasa ku yang sudah kembali utuh untukmu, ntah hangat pelukmu terasa tenang yang membuat aman, atau memang rasa nyaman ini tidak pernah dapat terdefinisikan. Aku percaya, karena itu kamu. Hai kesenangan-ku. Aku selalu tertawa ketika hanya mendengar nama mu. Ntah berapa banyak senyum yang aku sembunyikan saat aku merasa begitu dibahagiakan olehmu. Tetaplah begini, jangan menghilang...

Sebuah Awal, atau Sebuah Akhir?

Aku menaruh harap pada keyakinan yang membuatku tenggelam. Seolah, semua fiksi yang aku karang adalah nyata. Sebagian lain menyeru untuk diklarifikasi. Nyatanya, aku masih terbuai dalam arus yang membuatku semakin menutup arah menuju permukaan. Aku menulis pada kisah yang terjadi dengan nyata. Hanya saja, sebagian orang lupa bahwa penulis bisa saja sedang mencoba membunuh dalam karya-nya. Sebuah kisah yang dikarang sedemikian tinggi lalu dibuatnya jatuh dengan hanya ingin melihat siapa yang akhirnya membuatnya kembali berdiri. Sulit bukan memahami isi sebuah cerita yang alurnya dapat ditebak namun maksudnya tidak terdefinisikan. Baiklah, begitu rasanya menerka-nerka sendirian, mencari kepastian namun tidak ingin mengusik penjelasan. Sebab, beberapa hal memang lebih baik tidak di ketahui. Terkadang, menjadi tidak mengetahui apapun lebih menenangkan. Sebenarnya, saat ini... Aku ingin mengadu pada senja. Menceritakan bagaimana rasanya menunggu terang kala gelap dengan ...