Pagi dan Sebuah Coklat Darimu
Pagi itu terasa lebih manis. Bukan karena melihat tatapnya yang menenangkan seperti biasanya, kali ini berbeda. Bukan perihal coklat digenggaman yang baru saja ia berikan. Tapi, lebih dari itu. Sebuah pengakuan. Ia malu-malu mengumpat dibalik senyum yang menggemaskan, sebentar-sebentar matanya mencuri pandang menikmati senyumku, kali ini aku merasa lebih cantik ketika melihat matanya yang berbinar mengamati setiap lekuk dalam wajahku. Aku semakin ingin tersenyum semanis mungkin, membiarkannya menikmati senyumku lebih lama. Hingga tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu yang membuatku ingin memeluknya saat itu juga, sebuah coklat. Sederhana memang, siapapun bisa memberikan untuk yang terkasih. Namun, aku begitu bahagia sekali. Rasanya, aku tidak pernah memimpikan ia yang berada di depanku berlaku semanis itu hanya untuk membuat senyumku kembali. Terima kasih, aku begitu bahagia hanya dengan menatapmu, kali ini bertambah bahagiaku kala aku menerima coklat darimu. Sebuah ...