Aku, Tempat Bernama Rumah.

Sebenarnya aku ingin saja tertawa terbahak-bahak saat membaca itu. Tapi rasanya, aku seperti menipu diri. Lalu aku terdiam sebentar. Mencoba menenangkan diri. Rasanya, aku tidaklah perlu bersusah payah mencari kebenaran yang terjadi. Aku bisa saja meminta penjelasan, hanya saja aku terlalu takut tidak bisa menerima dengan lapang dada.

Sepertinya aku tahu, ini sudah berulang kali kita bahas. Tapi rasanya masih saja sama, menyesakkan.

Aku berkali-kali meyakini diri atas sebuah kalimat yang berulang kali aku ucap pada diri sendiri "mencintai seseorang tidak harus menuntut melupakan masa lalunya". Aku mudah saja mengingatnya, tapi rasanya begitu sulit ketika harus aku menghadapinya sendirian.
Lalu aku harus bagaimana? Mencoba tetap baik-baik saja meskipun aku sedang tidak baik-baik saja.

Lagipula, meski aku menuntut untuk meluapkan semua patah yang dikarenakan olehmu, aku tetap tidak bisa memungkiri bahwa ; aku masih akan tetap mencintai mu.
Aku ingin egois, tapi rasanya tidak perlu. Aku hanya harus menjadi sedikit lebih pengertian.

Aku mencoba paham, bahwa tidak selamanya kenangan itu mudah dilupakan. Tapi, ada yang belum aku mengerti. Sebenarnya semua tentang dia, sulit dilupakan, atau memang kamu tidak pernah berniat melupakan?

Aku sedang berusaha, memantapkan hati melupakan semua ragu perihal kepercayaan. Sebab aku pernah begitu dikecewakan.

Rasanya, aku menjadi kembali takut memulai. Lalu apa yang bisa membuat aku kembali tangguh? Pelukmu.

Saat ini, aku hanya ingin menemui mu lalu memelukmu seolah aku benar-benar tidak akan pernah melepasmu--untuk yang lain.

Rasanya, hanya itu yang aku miliki. Itu menjadi kebanggaan terbesarku, sebab menerima dengan lapang dada semua perihal masa lalu kamu aku sudah merasa cukup.

Walaupun mungkin, aku belum menjadi perempuan yang begitu pengertian, aku masih akan tetap menjadi yang terbaik untuk kamu.

Lalu, ajari aku untuk belajar mencintaimu tanpa rasa sakit.

Boleh aku meminta satu hal? Permintaanku mungkin terdengar sederhana.
Belajarlah mencintai aku sebagai segalamu. Sebab, jika kamu menjadikan aku segala mu, aku akan menjadi apa saja yang kamu butuhkan. Aku akan menjadi sesuatu dibalik alasan-alasan keputusan yang kamu pilih. Aku akan menjadi kisah apapun yang kamu bagi. Terlebih, aku akan menjadi tempat mu pulang bernama ; rumah.

Aku tetaplah seorang perempuan.

Yang tetap akan mencintai meski dilukai,
Yang tetap akan bertahan meski dipatahkan
Yang tetap akan berada disini saat kamu membutuhkan pelukan.

Aku perempuan yang mudah marah, mudah menangis, dan jauh dari kata sempurna. Hanya saja, aku beritahu kamu sebuah rahasia. Jika aku sedang marah, jika aku sedang menangis, jika aku sedang berada di titik lelah, beri aku pelukan.

Sebab yang aku butuhkan dari rasa sedih adalah peluk yang menenangkan.

Karena,
Kamu adalah samudera, tempat hatiku bermuara.

Comments

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Sebelum usia 23

Semesta Untuk Jingga