"Rumah bukan tempat kembali", lagi.

Hidup adalah soal warna. Tentang warna abu-abu atau warna jingga.
Hidupku adalah sebuah warna abu-abu, dahulu. Setiap rona warna hadir membuat keindahan mata yang hanya berada di awal pertemuan. Entah itu tentang cinta, atau segala sesuatu yang akan berakhir tragis.

Aku benci warna abu-abu, karena disana keraguan itu berada. Abu-abu adalah tidak hitam tidak putih. Melainkan suatu tempat dimana pilihan-pilihan itu bersemu menjadi satu.
Aku begitu membenci berada diantara pilihan-pilihan yang menyulitkan.
Warna yang paling kusuka adalah jingga, karena ia selalu indah.

Aku pernah berharap, bertemu dengan seseorang yang akan membuat warna hidupku berubah. Dari abu-abu menuju jingga.
Kini, aku dalam perjalanan menuju warna indah itu, namun kebahagiaan memang tidak akan pernah abadi. Hingga, setiap perjalanan menemukan lorong gelap yang membawaku kembali ke warna abu-abu.

Sebuah tangan menuntunku kembali ke jalan yang benar, menuju warna jingga kesukaanku. Hidupku masih abu-abu, hingga berada di atas jingga dan aku masih mengenang keabu-abuan itu.

Kenapa aku begitu membenci abu-abu?
Karena aku tidak pernah bisa berdamai dengan warna itu. Itu sebabnya aku begitu membencinya.

Salah satu hal untuk mencintai yang pernah dibenci adalah dengan berdamai. Aku tidak pernah bisa melakukannya, karena berdamai untukku adalah kembali ke masa itu. Itu sebabnya aku tetap membencinya.

Tentang apa kali ini?
Tentang sebuah tempat kembali.
Bukan, bukan rumah.
Melainkan tempat indah yang tak pernah ku kunjungi, hanya sendiri.
Itulah tempat kembali terbaikku.
Aku selalu tenang ketika sendiri, itu sebabnya aku tak membutuhkan orang lain untuk ku ajak bersama menyinggahi tempat itu.

Rumah, aku tidak menyukainya, sungguh.

Comments

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Sebelum usia 23

Semesta Untuk Jingga