Keraguan atau kepastian?

Sebuah ragu, dari kisah di penghujung batas penantian.

Katamu, aku ragu?
Aku atau kamu?

Rindu itu tabu.
Aku tidak perlu bertemu dengamu.
Dengan tidak membuatku menunggu, itu sudah lebih dari cukup menuntaskan rinduku.

Jangan bertanya?
Lalu, aku harus berkaca?
Pilihan itu bukan untuk dikhianati.
Kamu, adalah tumpuan dari keraguan itu berasal.

Lemah.
Kau bukan kehilangan arah, hanya saja kamu belum bisa memastikan.

Aku sudah mencoba membiarkan semuanya seolah baik-baik saja. Mencoba melepasmu, melapangkan dada untuk mengutarakan bahwa "aku baik-baik saja tanpamu, disini". Sebuah usaha melupakan, itu mudah saja untuk dikatakan. Tapi, ternyata melupakanmu tidak semudah itu.

Bukan kepergianmu yang menyulitkan untukku.
Tapi, memutuskan untuk pergi tanpa memastikan yang sangat mematikan hatiku.

Bagaimana caranya aku bisa melupakan? Jika kau saja datang lalu pergi, lagi.
Harus ku usir jauh-jauh?
Tapi aku tidak ingin terlepas darimu.

Kepastian itu menyesakkan. Apalagi tidak mendapat kepastian, membunuh.

Roda saja berputar, dan kau masih saja dalam pijakan yang sama. "Kehilangan arah" katamu.

Rindu yang menyulitkan.
Karena jutaan rindu yang tak terbalas ini, menyeruak membuatku menahan segala hal tentang kepergianmu.

Bukan kau yang jahat.
Tapi, keraguan dalam hati yang berkhianat.

Comments

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Sebelum usia 23

Semesta Untuk Jingga