Malam dengan rindu untukmu (lagi)
"Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah"--Fiersa besari.
Sederhana, tapi bermakna.
Maaf, mungkin kamu bukan lagi kunamai sebagai tempat aku pulang. Hanya saja, hati ini masih menaruh harap untukmu.
Kau tahu, aku saja sudah berusaha melupakanmu, hanya saja takdir menyuruhku tetap diam, di dalam rasa bersalah yang semakin mendalam.
Iya, ini "serba salah" katamu. Aku juga, ku harap kau baca.
Sungguh, malam ini benar-benar sangat menyakitkan. Aku hanya baru mengetahui tentang segala hal yang kamu rasa, mengenai aku.
Ku harap itu salah, hanya aku yang terlalu terbawa perasaan. Tapi, ku rasa itu benar, dan kau yang salah.
Salah karena masih mengaggapku ada.
Aku memang ada, disini. Tapi sudah dimiliki orang lain, dan kamu?
Aku bisa apa?
Aku rindu tapi aku ragu.
Aku sayang tapi aku takut.
Aku mencintaimu, tanpa tapi.
Aku tidak pernah menjadikanmu sebagai sebuah pilihan, untuk itu kamu bukan yang terpilih. Karena, kamu ada di urutan pertama, namun aku ragu.
Kurasa, ini sudah seharusnya berakhir, jangan mencintaiku. Kamu boleh merinduku, tapi jangan membenciku.
Waktu yang salah? Tapi rasa kita tetap tepat, begitu?
Aku mencintaimu utuh, tidak ku bagi dengannya.
Tapi, aku tidak bisa memilihmu.
Karena sekali lagi ku jelaskan, kamu bukan pilihan untuk itu kamu tidak terpilih.
Kamu tahu arti semesta mengirimku untuk dirimu?
Untuk mengajarkanmu arti sebuah kehilangan.
Kamu tahu arti semesta mengirimmu untuk diriku?
Untuk mengajarkanku menemukan cinta sejati, tidak harus memiliki.
Ikhlas, melepaskan.
Maaf, jika ini tidak adil untukmu.
Asal kamu tahu, ini juga bukanlah hal yang adil untukku.
Aku tidak bisa berhenti mencintaimu.
Aku masih saja merindumu, tapi ku harap kamu tidak tahu, karena itu hanya akan menjadi semakin menyakitkan.
Maaf, jika aku menyulitkanmu.
Kamu juga, menyulitkanku.
.
.
.
Kehilangan setahun (katamu)
Duaribuenambelasterakhir
Sederhana, tapi bermakna.
Maaf, mungkin kamu bukan lagi kunamai sebagai tempat aku pulang. Hanya saja, hati ini masih menaruh harap untukmu.
Kau tahu, aku saja sudah berusaha melupakanmu, hanya saja takdir menyuruhku tetap diam, di dalam rasa bersalah yang semakin mendalam.
Iya, ini "serba salah" katamu. Aku juga, ku harap kau baca.
Sungguh, malam ini benar-benar sangat menyakitkan. Aku hanya baru mengetahui tentang segala hal yang kamu rasa, mengenai aku.
Ku harap itu salah, hanya aku yang terlalu terbawa perasaan. Tapi, ku rasa itu benar, dan kau yang salah.
Salah karena masih mengaggapku ada.
Aku memang ada, disini. Tapi sudah dimiliki orang lain, dan kamu?
Aku bisa apa?
Aku rindu tapi aku ragu.
Aku sayang tapi aku takut.
Aku mencintaimu, tanpa tapi.
Aku tidak pernah menjadikanmu sebagai sebuah pilihan, untuk itu kamu bukan yang terpilih. Karena, kamu ada di urutan pertama, namun aku ragu.
Kurasa, ini sudah seharusnya berakhir, jangan mencintaiku. Kamu boleh merinduku, tapi jangan membenciku.
Waktu yang salah? Tapi rasa kita tetap tepat, begitu?
Aku mencintaimu utuh, tidak ku bagi dengannya.
Tapi, aku tidak bisa memilihmu.
Karena sekali lagi ku jelaskan, kamu bukan pilihan untuk itu kamu tidak terpilih.
Kamu tahu arti semesta mengirimku untuk dirimu?
Untuk mengajarkanmu arti sebuah kehilangan.
Kamu tahu arti semesta mengirimmu untuk diriku?
Untuk mengajarkanku menemukan cinta sejati, tidak harus memiliki.
Ikhlas, melepaskan.
Maaf, jika ini tidak adil untukmu.
Asal kamu tahu, ini juga bukanlah hal yang adil untukku.
Aku tidak bisa berhenti mencintaimu.
Aku masih saja merindumu, tapi ku harap kamu tidak tahu, karena itu hanya akan menjadi semakin menyakitkan.
Maaf, jika aku menyulitkanmu.
Kamu juga, menyulitkanku.
.
.
.
Kehilangan setahun (katamu)
Duaribuenambelasterakhir
Comments
Post a Comment