Tanya Yang Tak Jua Terjawab
Aku rindu bercerita pada malam sehabis hujan, waktu yang selalu menenangkan ditambah puisi semakin menyenangkan.
Malam-malam kini terlewati tanpa sesuatu. Hilang begitu saja bersama lelapnya mimpi yang tak jua hilang setiap hari. Rasanya seperti lebih banyak tinggal di alam itu, padahal jelas-jelas dibangunkan dengan keadaan yang memaksa nyata.
Siapa yang tahu? Tentang apa yang ada dalam diri seseorang. Butuh waktu untuk menyederhanakan setiap pemikiran yang membuat kalut, diri sendiri saja tak mampu menerjemahkannya.
Lalu, pada siapa selama ini pertanyaan itu dituju?
Semakin larut semakin sulit dipejamkan, sudah ku kira malam ini akan seperti malam-malam panjang yang kemarin. Banyak hal tidak terduga yang harusnya sudah terdefinisikan.
Pada setiap hujan yang membasahi bumi, ada umpama panjang yang mengepung langit untuk segera mendapat giliran jawaban.
Bagaimana caranya berhenti? Atau begini, bagaimana jika sudahi saja semua sesuatu yang mengusik kalbu, tidak ada jera-nya, selalu membuat ragu.
Rasa takut yang menggebu padahal tidak dikarenakan sesuatu.
Sebenarnya, apa yang terngiang?
Rindu yang tidak pernah sampai, atau cinta yang diidamkan untuk diwujudkan namun terlewati.
Kusudahi saja nyata ini, aku lelah bercengkrama dengan sepi.
Malam-malam kini terlewati tanpa sesuatu. Hilang begitu saja bersama lelapnya mimpi yang tak jua hilang setiap hari. Rasanya seperti lebih banyak tinggal di alam itu, padahal jelas-jelas dibangunkan dengan keadaan yang memaksa nyata.
Siapa yang tahu? Tentang apa yang ada dalam diri seseorang. Butuh waktu untuk menyederhanakan setiap pemikiran yang membuat kalut, diri sendiri saja tak mampu menerjemahkannya.
Lalu, pada siapa selama ini pertanyaan itu dituju?
Semakin larut semakin sulit dipejamkan, sudah ku kira malam ini akan seperti malam-malam panjang yang kemarin. Banyak hal tidak terduga yang harusnya sudah terdefinisikan.
Pada setiap hujan yang membasahi bumi, ada umpama panjang yang mengepung langit untuk segera mendapat giliran jawaban.
Bagaimana caranya berhenti? Atau begini, bagaimana jika sudahi saja semua sesuatu yang mengusik kalbu, tidak ada jera-nya, selalu membuat ragu.
Rasa takut yang menggebu padahal tidak dikarenakan sesuatu.
Sebenarnya, apa yang terngiang?
Rindu yang tidak pernah sampai, atau cinta yang diidamkan untuk diwujudkan namun terlewati.
Kusudahi saja nyata ini, aku lelah bercengkrama dengan sepi.
Comments
Post a Comment