Aku Sedang Merindumu


             Masa lalu itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilupakan. Terkadang tersimpan hal-hal baik yang mesti tetap diingat, bukan untuk dikenang hanya untuk sekedar paham bahwa ada arti dari sebuah kehilangan. Perjalanan itu tidak semestinya ingin terus seperti gula, manis. Bukankah perjalanan itu lebih terasa menyenangkan jika kita nyaman menjalaninya? Dalam kondisi apapun. Sebuah perjalanan pasti menghadirkan kisah panjang tak terlupakan, meski kadang ada hal yang tidak perlu diingat. Kisah hadir bukan untuk dikenang, melainkan untuk mengisi hari-hari agar tidak kosong.
            Setiap manusia perlu berbenah untuk melanjutkan perjalanannya. Tidak akan ada bahagia jika tidak pernah merasakan pedihnya air mata. Kenangan ada untuk itu, untuk menjelaskan pada kita bahwa bahagia bukanlah sebuah kesenangan, tapi kepedihanlah yang menjadi sebuah arti bahwa tidak akan pernah ada tawa atas sebuah pedih yang menyayat hati.
            Kembali lagi menuju masa lalu. Cerita tidak akan ada habisnya untuk di tulis. Sebagian hanya datang untuk melepas peluh, lalu kembali berjalan lagi. Tidak akan pernah ada kisah yang benar-benar berujung manis. Sebuah pilu pasti hadir untuk membuat kisah itu menjadi indah dan berwarna.
Sebuah awalan untuk menghadirkan perjalanan baru seorang pejuang cinta, pencari jati diri dan mencari sesuatu yang membuat pemberhentian itu ada, sesuatu yang membuat perjalanan itu berhenti dengan menemukan yang terbaik. Bukan karena merasa lelah telah berjalan jauh, namun karena telah mendapatkan sesuatu untuk tidak pernah mencari lagi.
Kisah hadir untuk membuat lembaran itu terisi penuh. Tidak pernah memikirkan bagaimana agar tulisan tersebut rapi atau terjaga, lembaran itu ada bukan untuk memuaskan para pembaca, melainkan memuaskan hasil kerja para penulis, karena yang indah belum tentu memiliki kebahagiaan yang utuh di baliknya, selalu ada pedih yang membuat luka untuk menarik hadirnya penutup luka yang baru.

            Kita pernah sama-sama berjuang, sama-sama bersama, dan sama-sama menulis lembaran ini dengan kisah yang serupa. Namun, lembaran itu berhenti dalam perjalanan sebelum menuju pemberhentian. Kamu merasa bahwa aku bukanlah tempat berhenti terakhir hingga kamu tidak perlu mencari lagi. Rupanya, aku bukanlah untuk itu.
Berjuang ternyata tidak sebercanda itu. Kita hanya perlu mengikhlaskan, bahwa cinta ada bukanlah untuk menyatukan dua hati dan perasaan seorang pria dan wanita. Melainkan sebuah usaha mengikhlaskan atas perjalanan cinta yang tidak juga menemukan titik temu.
Melupakan, sebuah usaha yang tidak akan pernah bisa dilakukan dengan mudah, bagaimanapun caranya, setiap usaha perlu dinamai dengan perjuangan, karena yang mudah untuk diucapkan, sangat sulit untuk dilakukan. Kau tahu? Rindu ini masih saja tentangmu. Tidak usah berlagak peduli, kau bosan? Aku juga bosan, kenapa rinduku hanya sebatas tumpuan tentang sosokmu lagi.
Langit pernah menangis, tapi ia turun dengan hujan. Hujan membawa cerita panjang tentang kisah yang telah usai. Kisah itu memang telah selesai, namun kenangannya masih terbungkus rapi dalam ingatan. Bukan sosoknya yang tidak bisa pergi menjauh, hanya saja kenangannya terlalu indah untuk dillupakan. Tawamu masih jelas terekam atas ingatan yang tanpa pernah kusuruh untuk mengingat. Senyum itu, masih saja membuat candu. Aku rindu..

Comments

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Sebelum usia 23

Semesta Untuk Jingga