Sebelum usia 23

 Pada malam yang terasa kian panjang— sehabis hujan sejak sore tadi.


Aku menemukan kesedihan yang tak kunjung reda meski langit telah berhenti menangis sejak tadi.

Ku kira, semesta menemaniku untuk menikmati perasaan ini, ternyata, lagi-lagi aku hanya sendirian.


Menikmati isi kepala yang semakin menggerogoti rasa percaya pada hidup yang katanya akan indah pada waktunya jika kita menjalaninya dengan baik-baik saja.


Seperti dinginnya malam sehabis hujan, aku mencari hangatnya kasih dari yang tersayang. Aku meraba-raba perasaan tenang dari setiap lekuk wajahnya, mencari-cari perasaan teduh dari tatapan matanya. Aku tidak menemukannya sebab ia telah lebih dulu pamit. Aku menyiksa perasaan sendirian, dengan pikiran-pikiran yang tak bisa kukendalikan sendiri.


Sampai hujan kembali turun saat aku menulis ini, perasaan tidak tahu harus berlaku seperti apalagi masih menjadi pertanyaan dalam benakku. Apakah menjadi jahat adalah jawabannya?


Manusia seringkali bersimpuh pada tanah, memohon pada langit, menjadi sebagian usaha atas keinginan-keinginan yang belum dikabulkan semesta. Menjadi lemah dan tunduk, mengingat Tuhan ketika merasa gagal dan terpuruk.


Langit mungkin bisa saja berteriak kesal, menjadi satu-satunya pengumpul keinginan tidak masuk akal. Tapi ia tetap baik, menjaga matahari dan bulan. 


Kadangkala, apa yang ada dalam isi kepala sendiri seringkali membunuhmu, membunuh sebagian bahagiamu, membunuh sebagian rasa percaya atas hidupmu, tapi ia juga menguatkanmu. Menjadikanmu paling hebat diantara manusia lainnya karena sudah bertahan sejauh ini, bertahan menjadi manusia baik meski seringkali berpura-pura, bertahan menjadi yang paling menyayangi meski terkadang sumpah serapah seringkali tertahan di dalam diri, bertahan menjadi manusia yang selalu bahagia meski rasa sedih senang berteman.


Kita hanya perlu bersabar sedikit lagi, menikmati penyiksaan yang mungkin sebentar lagi selesai, atau meskipun tidak pernah selesai, setidaknya kita bisa bersabar untuk waktu yang panjang. Agar hidup tidak dengan banyak penyesalan.


Selamat hidup dengan baik, orang-orang baik!

Comments

  1. Sudah menjadi tugas langit untuk selalu menyertai

    ReplyDelete
  2. Ehh bentar, aku ini jadi langit apa semesta sih? Serius nanya :3

    ReplyDelete
  3. Mungkin aku harus belajar darimu, belajar bagaimana menjadi tidak peduli.
    Melupakan sakitku dan berlalu seperti tiada apa-apa yang berlaku.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Semesta Untuk Jingga