Sepotong puzzle kehidupan

Hidup adalah soal perjuangan. Ntah itu hal mudah, atau bahkan hal sulit sekalipun. Banyak hal yang terjadi di dunia ini. Kita hidup bersama milyaran manusia lainnya yang sama-sama memiliki obsesi terhadap sesuatu. Kita hidup dengan satu tujuan menggapai apa yang kita mau lalu menjatuhkan orang lain dan berdiri tinggi tegak sendiri.

Tidak banyak manusia yang tak tahan berjuang lalu gugur di tengah jalan. Bahkan ia belum sempat menciptakan hal baru untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Ini tentang sesuatu, sebuah cerita dalam hidup yang begitu sering di alami oleh setiap manusia.

Kala itu, sebuah rutinitas yang selalu di adakan oleh sekolah menengah atasku setiap tahun. Bagaimana tidak, kesempatan itu hanya datang satu kali dalam setahun, sebuah program dimana setiap siswa diharuskan mengirimkan perwakilan temannya untuk mengikuti beberapa lomba yang berhubungan dengan hari kartini. Ya, acara tersebut memang di laksanakan setahun sekali guna mengingatkan kami semua pada sosok pahlawan perempuan pemberani di muka bumi indonesia ini.

Hari itu, tepat dimana aku dan teman sekelasku memperdebatkan soal siapa yang akan mewakilkan untuk ikut serta dalam lomba tersebut. Begitu banyak kategori yang di lombakan, salah satunya adalah lomba cipta puisi. Kala itu, semua teman-temanku menunjukku sebagai perwakilan dari kelasku. Belum sempat aku mengatakan “iya” bahkan mereka sudah bersemangat menuliskan namaku di kertas pendaftaran peserta lomba.

Namun, yang aku permasalahkan bukanlah tentang hal itu, tetapi mengenai sebuah perkataan menyakitkan dari satu temanku yang lain. “ yakin nabillah yang bakal wakilin kelas kita? Dia emang bisa? Terus bakalan menang?” ucapan tersebut terlontar begitu saja dari mulut seorang lelaki yang memang tidak kusukai sejak dulu, bahkan bukan hanya aku, tapi semua teman di kelasku begitu tidak menyukainya. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya, toh kenapa harus membalas ucapan manusia yang bahkan ia tidak pernah membuktikan bahwa ia lebih baik dari seseorang yang ia hina.

Dengan segala tekad yang bulat untuk menanggapi ucapan lelaki tersebut dengan pembuktian dan bukan hanya omong kosong belaka, maka aku berusaha membuat  semuanya menjadi mungkin. Aku terus membenarkan tulisanku kala itu dengan bersemangat, hingga aku merasa bahwa semuanya sudah lebih baik, aku memberanikan diri mengirim hasil tulisanku tersebut pada panitia perlombaan.

Hari itu, disaat teman-temanku yang lain bahkan menyapaku dengan berbagai pertanyaan mengenai tulisanku, ia satu-satunya manusia yang bahkan masih saja mencoba meremehkanku dengan pernyataannya. “kalo nulis puisi biar menang harus pake kata-kata yang abstrak, susah di tebak, baku tapi mudah di mengerti, pake bahasa sastra gitu, tau kan?” ucapnya, aku kembali hanya tersenyum kala ia selesai mengatakan semua yang ia ingin katakan padaku, tidak berniat sama sekali untuk membalasnya dengan rasa kesal bahkan merutuki dia yang masih memasang wajah menyebalkan di depanku. Teman-temanku melotot kesal ke arah lelaki di depanku ketika mendengar ucapannya yang memang terkesan meremehkanku, apalagi setelah mereka melihatku yang hanya menanggapi ucapan lelaki tersebut dengan sebuah senyuman. Setelahnya, mereka mengoceh panjang dan menyuruhku agar membalas setiap perkataan yang di lontarkan lelaki itu padaku. “biarkan saja, kita lihat saja siapa yang malu dengan perkataannya sendiri” gumamku dalam hati.

Sebelumnya, aku di beritahu oleh panitia perlombaan bahwa kelasku mengirimkan dua perwakilan, tidak ada yang mengetahui, semuanya sangat mendadak dan bahkan ketua kelaspun tidak mengetahui bahwa ada seseorang lain yang mengirimkan tulisannya ke panitia selain tulisanku. Hingga akhirnya aku tahu, bahwa seseorang itu adalah lelaki yang sama, yang beberapa kali sempat menilaiku dengan rendah.

Akhirnya, saat itu tiba..

Pengumuman hasil perlombaan dalam rangka memperingati hari kartini di sekolahku. Aku begitu was-was ketika menyadari bahwa lelaki itu masih menatapku tajam dengan pandangan seolah ia tahu bahwa aku tidak mungkin menang. Aku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, hingga akhirnya tepat waktunya MC di atas panggung membacakan pemenang lomba cipta puisi tahun ini. Dan.. aku tidak berhasil meraih juara pertama, melainkan hanya runner up, juara kedua. Sorak sorai teman sekelasku begitu kencang ketika MC menyebutkan nama dan kelasku. Aku ikut tersenyum dan larut dalam bahagia, hingga aku terdiam ketika menyadari lelaki itu, lelaki yang menilaiku berada di bawahnya datang menghampiriku, dan tebak.. apa yang dia katakan? Dia memberikan ucapan selamat padaku dan dia meminta maaf atas segala penilaiannya terhadapku. Aku hanya kembali tersenyum hingga ia akhirnya memutuskan untuk pergi lebih dulu, lagi lagi aku hanya tersenyum dan bersorak dalam hati bahwa akhirnya dia tahu pada siapa dia berhadapan dan dengan siapa dia berbicara.

Untukku, kisah ini adalah sebuah pembelajaran berharga di akhir masa sekolahku. Kita tidak harus menanggapi apa yang orang lain katakan, tetapi sebaliknya kita membalasnya dengan prestasi yang dapat membuat ia membungkam mulut.

Dan..

Jangan pernah sekalipun memberikan penilaian yang buruk terhadap seseorang jika kamu belum mengetahui apa ambisinya dan apa yang membuat ia begitu ingin mewujudkan mimpinya.

Terakhir, cerita ini biarkan hanya menjadi kisah dalam kehidupanku yang membantuku menyelesaikan setiap potongan puzzle yang akan tergambarkan penuh ketika masa dalam kehidupan ini berakhir untukku.

Comments

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Sebelum usia 23

Semesta Untuk Jingga