Hujan, september, dan kamu yang kembali (lagi)
Hujan selalu memiliki arti.
Kali ini, ia turun bersama cerita indah itu.
Tentangmu, lagi.
Bertemu orang baru memang tidak selalu berarti berhasil melupakan orang lama, yang pernah terkasih maksudnya.
Dua hal yang berbeda, antara seseorang yang masih berusaha untuk dilupakan, atau seseorang yang sudah benar-benar terlupakan.
Dia, yang pertama sepertinya sudah jauh hilang sejak saat pemberhentian itu terjadi.
Dan dia yang kedua, sempat ku fikir telah hilang..
Ternyata, aku belum sepenuhnya pergi. Masih menetap dalam satu kisah yang belum usai.
Aku bahagia, saat bersamamu, dahulu sebelum aku memutuskan untuk memilih memilikinya. Jauh sangat merasa bahagia hingga kini, meski dengannya aku tahu bahwa aku memiliki satu tujuan bersama, sedangkan denganmu, aku bahkan tidak pernah tahu apa kamu jatuh hati padaku atau bahkan pada yang lain.
Kini, aku mengerti bahwa aku belum sepenuhnya berhenti. Aku hanya membutuhkan waktu untuk mencoba pergi lalu melupakan. Hingga akhirnya kau datang lagi membuat pemberhentianku kembali berlanjut.
Tak jarang cinta itu begitu rumit, dan kali ini.
Pada akhirnya, yang harus dipahami adalah cinta tidak dapat di paksakan.
Apapun yang diawali dengan pemaksaan, tidak akan berakhir baik.
Biar kali ini waktu yang menuntun menuju proses cerita ini, ntah akan berakhir seperti apa, yang aku tahu ini yang terbaik.
Lucu bukan?
Cinta itu begitu misterius.
Ketika aku bahkan berfikir bisa bahagia dengannya, tapi ia kembali dan membuat luka itu kembali terbuka, kali ini mungkin ia mencoba menjahitnya, menyembuhkan luka lama itu, dan mungkin akan kembali pergi setelahnya.
Manusia memang tidak pernah merasa cukup. Aku egois, sangat diakui begitu egois.
Disaat aku tidak ingin kehilangannya, aku ingin kembali dekat dengan yang lain.
Apakah cinta itu selalu begitu? Selalu membutuhkan orang baru untuk menghilangkan rasa bosan?
Tapi untukku bukan begitu, aku hanya belum benar-benar pergi. Aku masih menaruh hati untuk dia. Lantas, ketika dia kembali aku hanya bisa menerima. Tanpa peduli apa yang bakal terjadi setelahnya.
“That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me feeling your kiss
That should be me buying you gifts
This is so wrong
I can't go on
'Till you believe
That that should be me
That should be me “
Seharusnya, jika ingin begitu kamu mengutarakannya lebih dulu, dahulu.
Jangan salahkan aku ketika aku lebih memilih kembali bersamanya.
Kamu tidak tahu begitu sulit rasanya untuk harus ‘kembali’ menunggu.
Aku pernah mencintai selama lebih dari lima tahun dan tidak mendapatkan apa-apa. Hingga akhirnya aku berjanji tidak akan memperjuangkan cinta yang menyuruhku untuk menunggu lebih lama.
Kali ini, ia turun bersama cerita indah itu.
Tentangmu, lagi.
Bertemu orang baru memang tidak selalu berarti berhasil melupakan orang lama, yang pernah terkasih maksudnya.
Dua hal yang berbeda, antara seseorang yang masih berusaha untuk dilupakan, atau seseorang yang sudah benar-benar terlupakan.
Dia, yang pertama sepertinya sudah jauh hilang sejak saat pemberhentian itu terjadi.
Dan dia yang kedua, sempat ku fikir telah hilang..
Ternyata, aku belum sepenuhnya pergi. Masih menetap dalam satu kisah yang belum usai.
Aku bahagia, saat bersamamu, dahulu sebelum aku memutuskan untuk memilih memilikinya. Jauh sangat merasa bahagia hingga kini, meski dengannya aku tahu bahwa aku memiliki satu tujuan bersama, sedangkan denganmu, aku bahkan tidak pernah tahu apa kamu jatuh hati padaku atau bahkan pada yang lain.
Kini, aku mengerti bahwa aku belum sepenuhnya berhenti. Aku hanya membutuhkan waktu untuk mencoba pergi lalu melupakan. Hingga akhirnya kau datang lagi membuat pemberhentianku kembali berlanjut.
Tak jarang cinta itu begitu rumit, dan kali ini.
Pada akhirnya, yang harus dipahami adalah cinta tidak dapat di paksakan.
Apapun yang diawali dengan pemaksaan, tidak akan berakhir baik.
Biar kali ini waktu yang menuntun menuju proses cerita ini, ntah akan berakhir seperti apa, yang aku tahu ini yang terbaik.
Lucu bukan?
Cinta itu begitu misterius.
Ketika aku bahkan berfikir bisa bahagia dengannya, tapi ia kembali dan membuat luka itu kembali terbuka, kali ini mungkin ia mencoba menjahitnya, menyembuhkan luka lama itu, dan mungkin akan kembali pergi setelahnya.
Manusia memang tidak pernah merasa cukup. Aku egois, sangat diakui begitu egois.
Disaat aku tidak ingin kehilangannya, aku ingin kembali dekat dengan yang lain.
Apakah cinta itu selalu begitu? Selalu membutuhkan orang baru untuk menghilangkan rasa bosan?
Tapi untukku bukan begitu, aku hanya belum benar-benar pergi. Aku masih menaruh hati untuk dia. Lantas, ketika dia kembali aku hanya bisa menerima. Tanpa peduli apa yang bakal terjadi setelahnya.
“That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me feeling your kiss
That should be me buying you gifts
This is so wrong
I can't go on
'Till you believe
That that should be me
That should be me “
Seharusnya, jika ingin begitu kamu mengutarakannya lebih dulu, dahulu.
Jangan salahkan aku ketika aku lebih memilih kembali bersamanya.
Kamu tidak tahu begitu sulit rasanya untuk harus ‘kembali’ menunggu.
Aku pernah mencintai selama lebih dari lima tahun dan tidak mendapatkan apa-apa. Hingga akhirnya aku berjanji tidak akan memperjuangkan cinta yang menyuruhku untuk menunggu lebih lama.
.
.
.
Catatan pertama di september~
Comments
Post a Comment