Surat Untuk Si Starla
Aku tidak tahu apakah ini
cara yang tepat untuk menuliskan-nya. Tapi ada banyak hal yang ingin ku simpan
sendiri tapi tidak bisa ku sembunyikan selamanya.
Aku tidak tahu apakah ini
bisa disebut cinta? Setiap hari kamu mengatakan-nya. Aku juga. Tapi aku tidak
benar-benar paham apa ini benar bisa disebut cinta?
Kadang, orang yang kita
sukai bukanlah orang yang kita butuhkan. Atau sebaliknya, kadang orang yang
kita butuhkan bukanlah orang yang kita sukai.
Kau tahu? Diam-diam aku
senang memperhatikan wajahmu. Aku melihat banyak makna disetiap lingkar wajah
itu. Ada banyak lelah tergambar disana, tapi aku kembali baik-baik saja setelah
melihat wajah itu tersenyum untuk-ku.
Mata coklat yang tidak
pernah kutemukan pada yang lain. Kamu bangga dengan itu bukan? Iya kamu benar,
itu indah. Aku selalu merasa senang ketika melihatnya. Tapi aku tahu, bukan
hanya aku yang sesungguhnya ada di mata itu, ada seseorang lain yang masih kau
simpan dalam mata itu, aku tidak ingin tahu itu siapa.
Janji-janji itu, aku percaya
kamu mengatakan-nya dengan jujur. Hanya saja, selain aku, kamu juga memiliki
keraguan itu. Kita tidak benar-benar yakin dengan apa yang telah kita lakukan.
Aku nyaman bersamamu,
menikmati waktu melewati kebersamaan kita. Tapi aku tidak pernah benar-benar
bahagia bersamamu. Ada banyak yang tidak kamu ketahui tentang aku. Yang ingin
kuberitahu, selama ini kamu tidak benar-benar tahu cara mencintai aku. Kamu
hanya sibuk membuat aku bahagia ketika bersamamu, membuatku nyaman, menemani
aku kemanapun aku membutuhkan seorang teman. Tapi, dibalik itu yang lebih
penting dari perjalanan mencintai adalah memahami dan pengertian.
Aku jatuh cinta kepadamu,
tapi aku terlalu takut menghadapi kenyataan bahwa sewaktu-waktu hatiku bisa
saja dipatahkan olehmu. Apapun yang kamu simpan dimatamu, aku tetaplah orang
yang lemah karena telah menolak kenyataan : aku mencintaimu.
Jika suatu hari nanti, Tuhan
tidak memperkenankan mempertemukan kita lagi. Simpanlah semua rasa yang pernah
kau miliki untukku dihatimu. Aku akan selalu menyimpan-nya di dalam hatiku.
Terima kasih untuk semuanya,
untuk setiap detik yang membuatku nyaman. Aku akan merindukan pelukan hangat
itu, kecupan pada kening yang membuatku merasa bahwa aku beruntung pernah
memilikimu. Terima kasih telah mencintaiku, telah mengenalkanku pada luka
sekaligus.
Jangan pernah berpikiran bahwa aku meninggalkanmu
karena tidak ingin menemanimu menuju puncak, aku hanya tidak ingin aku menambah
bebanmu. Sebab kau tahu? Perjalanan akan terasa lebih sulit ketika kau memikul
beban dibelakangmu. Aku sungguh hanya ingin mengurangi beban-beban dalam
hidupmu. Terserah kamu mau mengartikan-nya bagaimana, sebab yang aku tahu kamu
tidak pernah bisa dengan jernih memahami apa yang sedang orang lain beritahu.
Suatu saat, jika kita kembali dipertemukan, tetap
jadi kamu yang aku kenal. Aku ikhlas pernah membagi cintaku dengan lelaki
sepertimu. Aku tidak menyesalinya, aku hanya perlu merelakanmu dengan sebaik
mungkin.
Untuk setiap rasa yang
pernah ada, atau bahkan aku masih menyimpan-nya. Bukan hanya untuk dikenang,
melainkan untuk dijaga ntah hingga kapan.
Mungkin sebagian dirimu
berpikir bahwa aku meninggalkanmu begitu saja, saat dirimu yang hilang arah.
Aku ditakdirkan bukan untuk memberimu jalan, melainkan menemanimu hingga berada
ditempat tujuanmu.
Sebagian yang lain mungkin
dirimu berpikir bahwa aku bukan yang terbaik, sebab aku tidak pernah
pengertian. Tak apa, aku merasa jika aku memang bukan yang terbaik bagimu,
meski sudah kulakukan sebisaku, semampuku.
Selamat malam, sayang dan
rinduku masih tersimpan rapi untukmu. Meski aku tak tahu kamu mungkin telah
sempurna menghapus namaku dari tempat dihatimu, atau bahkan sudah melupakanku
dengan jauh. Tak apa, aku bisa menyimpan-nya sendirian.
Semakin lama, setelah
kehilangan—berusaha pergi darimu, aku makin menyadari banyak hal. Bahwa ketika
bersamamu, aku bukan tidak bahagia, tapi aku hanya tidak melihatmu bahagia.
Aku ingin tertawa, juga
ingin membuatmu tertawa. Tapi, aku tidak mengerti bagaimana caranya membuatmu
bahagia dengan aku. Aku hanya tahu bahwa aku mencintaimu, tapi aku belum tahu
bagaimana caranya menghadapi dirimu, mengerti mau-mu.
Maaf, bila aku sering
sekali menjadi egois.
Aku rindu pelukmu, itu
saja.
Ada banyak kenangan yang
tak pernah bisa kulupakan. Tentang lagu-lagu kita dan kebiasaan-kebiasaan kita.
Aku bukan tidak bisa
melupakanmu, aku hanya tidak mampu menghapus kenangan-kenangan tentangmu.
Jika nanti kamu menemukan
perempuan terbaik yang membuatmu sempurna menghapus tentangku dihatimu,
perlakukan ia dengan baik.
Pesanku, jangan pernah
memarahinya, meski ia melakukan kesalahan. Jangan pernah membohonginya, hanya
karena kamu malas bertengkar. Jangan mengkhianatinya, karena ia mencintaimu.
Setiap kehilangan memang
memberiku kesempatan untuk berpikir lebih jauh, aku baru sadar, sesuatu itu
sangat berharga setelah kehilangan, aku harap kamu juga begitu.
Jangan melakukan kesalahan
yang sama lagi, jika kamu tidak ingin ditinggalkan.
Mencintai bukanlah perihal
mampu memaafkan berkali-kali.
Suatu saat, jika tuhan
menakdirkan kita bertemu kembali—ntah sebagai apa. Kuharap, kamu tidak akan
melakukan kesalahan yang sama lagi, semoga kita tetap dipertemukan di waktu
yang tepat.
Selama aku masih sendiri,
berarti aku masih menunggumu.
Comments
Post a Comment