Dari aku ; yang masih mencintaimu
Ada sebuah hal yang dapat menenangkan setiap rasa duka,
Ada sebuah hal yang akan benar-benar menentramkan hati yang penuh luka,
Ada sebuah hal yang seharusnya mampu membuat cinta menjadi nyata,
Sebuah pelukan hangat dari cinta yang dibalas.
Beribu-ribu rindu mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk sampai jika dirasa sendirian.
Tapi, ketika dua hati saling berpaut rindu maka dalam sekejap saja, pertemuan itu akan terlaksana.
Meski jauh dalam masalah jarak, tidak akan lagi berarti saat hati bertemu kepastian yang mengikat.
Mencintai adalah siap menemukan apapun dan menerima apapun tentang luka, juga duka.
Aku siap.
Mungkin saja kamu yang tidak.
Aku yang masih saja berjuang sendirian untuk mendapat kepastian.
Sejak dulu, waktu tidak pernah ada yang tepat bagi kita.
Padahal, menurutku waktu tidak akan pernah tepat bagi mereka yang tidak mencoba memulai.
Lalu, aku harus menyalahkan siapa?
Waktu yang salah, cinta yang salah, atau kamu yang tidak berani membuat komitmen denganku?
Meskipun itu salah, aku tidak bisa memilih untuk menyerah.
Sebab ada beberapa hal yang akan ditemukan bahagia pada keberkian kalinya setelah luka.
Aku tangguh, kamu tidak perlu merasa cemas.
Aku cukup dengan mencintaimu saja sudah bahagia. Tidak menuntut untuk selalu kamu balas.
Terima kasih telah memberiku kesempatan lagi untuk kembali mencintai apa yang sempat aku ingin begitu miliki dahulu.
Aku percaya, kamu tahu ; bahwa aku masih mencintaimu.
Ada sebuah hal yang akan benar-benar menentramkan hati yang penuh luka,
Ada sebuah hal yang seharusnya mampu membuat cinta menjadi nyata,
Sebuah pelukan hangat dari cinta yang dibalas.
Beribu-ribu rindu mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk sampai jika dirasa sendirian.
Tapi, ketika dua hati saling berpaut rindu maka dalam sekejap saja, pertemuan itu akan terlaksana.
Meski jauh dalam masalah jarak, tidak akan lagi berarti saat hati bertemu kepastian yang mengikat.
Mencintai adalah siap menemukan apapun dan menerima apapun tentang luka, juga duka.
Aku siap.
Mungkin saja kamu yang tidak.
Aku yang masih saja berjuang sendirian untuk mendapat kepastian.
Sejak dulu, waktu tidak pernah ada yang tepat bagi kita.
Padahal, menurutku waktu tidak akan pernah tepat bagi mereka yang tidak mencoba memulai.
Lalu, aku harus menyalahkan siapa?
Waktu yang salah, cinta yang salah, atau kamu yang tidak berani membuat komitmen denganku?
Meskipun itu salah, aku tidak bisa memilih untuk menyerah.
Sebab ada beberapa hal yang akan ditemukan bahagia pada keberkian kalinya setelah luka.
Aku tangguh, kamu tidak perlu merasa cemas.
Aku cukup dengan mencintaimu saja sudah bahagia. Tidak menuntut untuk selalu kamu balas.
Terima kasih telah memberiku kesempatan lagi untuk kembali mencintai apa yang sempat aku ingin begitu miliki dahulu.
Aku percaya, kamu tahu ; bahwa aku masih mencintaimu.
Comments
Post a Comment