cinta itu untaian kata
Setiap
untaian kata yang terucap, mungkin kini tak berarti lagi. Jika cinta hanya
mampu diungkapkan dengan sebuah kata-kata. Lalu, Akankah cinta terjawab oleh
raga? Mungkin benar jika cinta hanya
sebuah rasa yang bergejolak melawan ilusi dalam jiwa. Namun akankah cinta
tersampaikan jika hanya dipendam di dalam dada?
Mungkin
setiap hembusan nafas terdengar sayup-sayup asmara yang membingungkan. Membuat
seluruh jiwa bertanya “apakah ini cinta? Atau hanya perasaan sementara yang
tumbuh ketika berada di dekatnya?”
Inikah
cinta yang sesungguhnya. Menggugah segala rasa malas oleh sebuah perasaan yang
menjelma menjadi sebuah kebiasaan. Inikah rasa? Rasa cinta yang selalu hadir
tanpa kuminta? Mungkin iya.
Lalu,
jika cinta itu datang dengan segala keraguannya, akankah ia masih dapat disebut
sebuah asmara?
Tak
selamanya cinta itu indah. indah di mata, tak selalu indah di hati. Begitupun
dengan benci. Benci di mulut, tak selalu benci di hati.
Itulah
cinta. Segala rasa yang tak mampu di utarakan, di ungkapkan, bahkan hanya bisa
di rasakan.
Segenap
rasa yang orang menyebutnya “rindu”. Itulah cinta yang sesungguhnya. Rasa cinta
yang berkecamuk menjadi satu. Dan menjelma menjadi sebuah kerinduan. Kebiasaan
memandang, dan kebiasaan memikirkannya.
Perbedaan
sebuah kemalasan menjadi sebuah kebiasaan, itulah cinta. Hanya cinta yang mampu
merubah segalanya. Air mata menjadi senyuman. Benci menjadi sebuah rasa ganjil
yang menyenangkan. Dan jantung menjadi lebih sering bekerja daripada
beristirahat.
Pikiran
yang biasanya di jalankan oleh kerja otak, sekarang berubah di kuasai oleh
sebuah perasaan dalam hati, yang memaksa otak tak berhenti-berhenti bekerja
untuk menjawab semua pertanyaan dalam hati.
Comments
Post a Comment