Pelabuhan harapan misterius #1
"Senyum kamu itu candu untukku". Ucapnya dengan mata berbinar.
"Lalu?" Tanyaku hati-hati.
"Jangan tersenyum pada yang lain, selain aku ya". Dia kembali tersenyum.
Aku memalingkan muka, mencoba menutupi semburat merah muda yang mungkin telah merona di pipiku.
Dia selalu begitu, selalu bisa membuat senang.
Dia tidak pernah tahu, bahwa ada seseorang lain yang hatinya sedang dijaga olehku, tidak hanya dia.
//
"I love you itu apa artinya?". Tanyanya dengan mata berbinar.
"Aku.. cinta kamu"Jawabku hati-hati.
Dia tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya "aku juga".
Dia baru kali ini begitu, aku terpukau sejenak.
Dia tidak pernah tahu, bahwa gurauannya itu merubah semua pandanganku tentangnya.
Kali ini, aku baru menyadari bahwa satu kali seseorang membuatmu bahagia, ia akan melupakan semua kepedihan yang seseorang itu pernah ciptakan, dahulu.
//
Jangan mencariku, jika bahkan kau hanya membutuhkan teman untuk meramaikan harimu yang sepi. Aku dihadirkan dalam hidupmu bukan untuk itu, melainkan mengajarkanmu arti seseorang hingga kamu baru akan menyadarinya ketika telah kehilangannya.
Jangan mencintaiku, jika bahkan kau hanya ingin dicintai juga. Cinta bukanlah itu, cinta adalah mengikhlaskan, meski bukan denganmu. (Ini omong kosong).
Jangan menjadikanku teman yang hanya kau datangi disaat kau perlu ditemani. Aku hadir untuk mengisi hari-harimu, bukan mengisi hari-hari sepimu saja.
Kau tahu, aku pernah begitu merasa dicintai hingga akhirnya aku tahu bahwa semuanya hanya sebatas perihal kasihan.
Kini aku menyadari, bahwa berpura-pura mencintai tidak sesakit menahan rindu.
Rindu itu tabu.
Karena dalam hidup, yang kita butuhkan hanya ditemani.
--
"Kamu kenapa?" Tanyanya sembari tangannya mengangkat wajahku yang menunduk.
"Di..a jahat". Jawabku sembari menahan isakan.
"Sini, biar ku hapus air matamu". Dia mengusap pipiku dan memelukku.
Aku hanya diam.
Dia melanjutkan ucapannya "siapa yang membuatmu menangis? Aku selalu berusaha mati-matian untuk selalu membuatmu tertawa, dan dia dengan mudahnya membuatmu menangis". Ucapnya geram.
"Kamu tidak perlu tahu". Aku menjawab tanpa menatap matanya.
"Ya, aku tidak perlu tahu". Dia melepaskan pelukannya lalu diam.
Aku yang tidak mengerti, hanya menatap awan sejauh mata memandang. Dia melihatku, lalu ikut menatap arah yang sama dimana mataku memandang, awan.
"Kamu tahu, kamu itu layaknya hujan, dan aku layaknya awan. Aku harus membiarkanmu terjatuh di depan mataku, dan itu rasanya sakit". Ujarnya pelan, tangisnya tertahan.
Kini aku tahu, rasa cintanya begitu besar terhadapku. Kapal itu telah menepi, hanya saja pelabuhannya belum menerima kapal itu menepi dengan baik. Kapal itu masih terombang-ambing menuju kepastian. Hingga pada saatnya tiba, ia baru akan benar-benar berdiri di pelabuhan yang sama untuk menaiki kapal baru dengan ditemani.
//
~to be continued~
"Lalu?" Tanyaku hati-hati.
"Jangan tersenyum pada yang lain, selain aku ya". Dia kembali tersenyum.
Aku memalingkan muka, mencoba menutupi semburat merah muda yang mungkin telah merona di pipiku.
Dia selalu begitu, selalu bisa membuat senang.
Dia tidak pernah tahu, bahwa ada seseorang lain yang hatinya sedang dijaga olehku, tidak hanya dia.
//
"I love you itu apa artinya?". Tanyanya dengan mata berbinar.
"Aku.. cinta kamu"Jawabku hati-hati.
Dia tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya "aku juga".
Dia baru kali ini begitu, aku terpukau sejenak.
Dia tidak pernah tahu, bahwa gurauannya itu merubah semua pandanganku tentangnya.
Kali ini, aku baru menyadari bahwa satu kali seseorang membuatmu bahagia, ia akan melupakan semua kepedihan yang seseorang itu pernah ciptakan, dahulu.
//
Jangan mencariku, jika bahkan kau hanya membutuhkan teman untuk meramaikan harimu yang sepi. Aku dihadirkan dalam hidupmu bukan untuk itu, melainkan mengajarkanmu arti seseorang hingga kamu baru akan menyadarinya ketika telah kehilangannya.
Jangan mencintaiku, jika bahkan kau hanya ingin dicintai juga. Cinta bukanlah itu, cinta adalah mengikhlaskan, meski bukan denganmu. (Ini omong kosong).
Jangan menjadikanku teman yang hanya kau datangi disaat kau perlu ditemani. Aku hadir untuk mengisi hari-harimu, bukan mengisi hari-hari sepimu saja.
Kau tahu, aku pernah begitu merasa dicintai hingga akhirnya aku tahu bahwa semuanya hanya sebatas perihal kasihan.
Kini aku menyadari, bahwa berpura-pura mencintai tidak sesakit menahan rindu.
Rindu itu tabu.
Karena dalam hidup, yang kita butuhkan hanya ditemani.
--
"Kamu kenapa?" Tanyanya sembari tangannya mengangkat wajahku yang menunduk.
"Di..a jahat". Jawabku sembari menahan isakan.
"Sini, biar ku hapus air matamu". Dia mengusap pipiku dan memelukku.
Aku hanya diam.
Dia melanjutkan ucapannya "siapa yang membuatmu menangis? Aku selalu berusaha mati-matian untuk selalu membuatmu tertawa, dan dia dengan mudahnya membuatmu menangis". Ucapnya geram.
"Kamu tidak perlu tahu". Aku menjawab tanpa menatap matanya.
"Ya, aku tidak perlu tahu". Dia melepaskan pelukannya lalu diam.
Aku yang tidak mengerti, hanya menatap awan sejauh mata memandang. Dia melihatku, lalu ikut menatap arah yang sama dimana mataku memandang, awan.
"Kamu tahu, kamu itu layaknya hujan, dan aku layaknya awan. Aku harus membiarkanmu terjatuh di depan mataku, dan itu rasanya sakit". Ujarnya pelan, tangisnya tertahan.
Kini aku tahu, rasa cintanya begitu besar terhadapku. Kapal itu telah menepi, hanya saja pelabuhannya belum menerima kapal itu menepi dengan baik. Kapal itu masih terombang-ambing menuju kepastian. Hingga pada saatnya tiba, ia baru akan benar-benar berdiri di pelabuhan yang sama untuk menaiki kapal baru dengan ditemani.
//
~to be continued~
Comments
Post a Comment