Rumah bukan tempat kembali (lagi, dan lagi)

Sulit ngga sih? Ketika kita dihadapkan dengan situasi yang sifatnya terbalik.
Mau berlaku apa jadinya susah, mau bela yang ini takut yang lain merasa di asingkan.

Dalam keluarga, masalah itu selalu ada. Tergantung bagaimana menyikapinya, masalah akan selesai bergantung pada sudut pandang mata kita menilai suatu hal.

Ini bukan hal yang asing lagi dirumah ini.
Bukan pertengkaran seperti yang bias disaksikan di sinetron-sinetron indonesia yang tidak ada habisnya.
Tapi, ini tuhan yang menulis skenarionya.

Tahukah? Bahwa puncak dari amarah yang sesungguhnya adalah bukan meneriaki atau berbicara dengan nada setinggi mungkin, melainkan bibir yang tak lagi mampu berucap. Hati yang terluka parah. Satu-satunya yang paling mudah terlihat adalah air mata.

"Papa jahat malam ini, papa membuat mama menangis".
Rasanya ingin aku berkata selantang mungkin di depan papa.

Dunia yang sudah berbalik atau memang kehidupan yang berputar?
Mereka sama-sama ingin mengunggulkan diri, meninggikan ego, tanpa sadar gengsi yang melekat dalam masing-masing diri mereka telah berada di puncaknya.
Tuhan menciptakan setiap manusia memang tidak memiliki batas kesabaran, hanya saja terkadang manusia itu sendiri yang membatasinya.

Kali ini, aku tahu.. bahwa mama sudah terlalu banyak menahan amarah.
Mama yang ku kenal tangguh, kuat, selalu ingin terlihat "baik-baik saja" kali ini rapuh.

Aku tidak menyalahkan papa sepenuhnya. Aku tahu, aku mengerti ada hal lain yang juga perlu papa jaga, hanya saja mama yang tidak mengerti.
Lalu, aku bisa apa?

Rumah bukan tempat kembali, lagi, dan lagi.
Lalu, kemanakah tempat ternyaman ku?
Kemanakah aku berlari jika aku butuh tempat berlindung?
Kemanakah aku harus pulang ketika aku merindukan kehangatan?

Semakin dewasa, kita akan semakin dapat melihat dengan jelas masalah-masalah yang ada dilingkungan sekitar.
Bukan hanya melihat, kematangan berpikir juga diperlukan. Untuk membantu mengatasi semua masalah hingga ditemukan jalan keluar.

Aku tidak selalu berada disini, aku hanya ingin menikmati kehangatan itu disini, sekali-kali.
Aku pergi bukan lari, aku hanya mencari udara segar. Rasanya terlalu menyesakkan berada disini.


Catatan anak kedua di bulan november--

Comments

  1. setelah baca ini yg dari awal aku merasa cuma aku yg menghadapi masalah dirumah dengan pertengkaran yg tidak ada habisnya sampai merasa rumahku bukan tempat ternyaman ternyata ada yg merasakan juga,makasih ceritanya sama yg aku rasakan dan aku juga anak kedua dibulan november :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Jetcoaster 'Hidup'

Sebelum usia 23

Semesta Untuk Jingga