Posts

Dekap Kisah

Image
Dalam satu hari yang terasa sama, namun kian menjauh. Menggenapi tapak kaki kita pada semesta, Menjadikan aku perempuan yang selalu berusaha bahagia, Sebab dalam doa, kurapalkan sejuta semoga perihal kita yang dijauhkan segala duka. Jadilah seperti yang sama-sama kita mau. Menjadi apapun yang saling seirama. Membentuk persepsi yang sama, meski kepala kita berbeda. Bertemanlah dengan ramai, Jangan sepertiku. Sepi tidak menuntut untuk merasa bahagia. // Mari kita berkhayal sebentar, Membentuk pola-pola dalam pikir yang menggemaskan. Kita duduk menikmati film penuh makna, memakan eskrim, juga menertawakan gurauan-gurauan yang melengkapi kisah kita. Sepertinya, aku harus membuat sesuatu. Makanan penuh cinta untukmu. Aku berikan pilihan. Kita nikmati waktu, atau secangkir teh hangat dengan peluk? Apapun ; asal denganmu. Masih membayangkan lagi? Rupanya, kita telah berpindah daritadi. Hanya ada jendela yang menghadap laut lepas. Semesta yang menguning, dan angin ya...

Perihal perencanaan

Hidup itu pilihan. Ada yang memilih hidup berdua untuk menua bersama. Ada yang memilih menemukan bahagia-nya sendiri. Ada yang memilih untuk dengan segera menuju pernikahan. Ada yang memilih menyelesaikan segala rencana-rencana perihal mimpi yang memaksa segera diwujudkan. Semua hal itu, tidak ada yang menjadi masalah. Terkadang, masalah itu datang hanya dari pikiran. Manusia itu egois, oke. Dilahirkan memang seperti itu. Hanya saja, sebagian dari manusia lain bisa menahan untuk tidak mengatakan apapun yang ingin dikatakan. Simpan setiap kalimatmu untuk hal-hal yang baik, jika dirasa tidak perlu dikatakan maka membisu lah untuk sesaat. Itu sungguh membantu. Sekali lagi, hidup adalah jutaan proses yang tidak akan pernah dapat di protes. Pernikahan bukanlah perihal menyatukan dua hati menjadi selayaknya saling memiliki. Melainkan, dua ego, dua pandangan, dua kepala, dan yang terpenting adalah dua keluarga. Banyak yang telah merasa mampu. Atau bahkan dipaksa merasa ...

Mentari dan Bintang yang dirindukan

Ada sebuah mentari yang lebih terang sinarnya, terjaga sepanjang hari tanpa jeda, tanpa langit berwarna abu-abu yang mungkin terasa dingin, hanya ada rasa hangat, seperti senyummu kemarin. Aku menyusurinya, mencari tempat paling nyaman untuk menemui mentari dengan sangat dekat. Rupanya, ia memang selalu berada di dekatku, dalam terangnya ia menyinari setiap hariku dengan penuh kasih, kehangatan nya menjagaku dari awan yang mungkin saja menumpahkan air mata melihat kesedihanku, mentari itu ada untuk melindungiku. Mari, tinggalkan perihal mentari. Aku menemukan satu yang lebih indah untuk ku kagumi, bintang malam ini yang paling terang. Sinarnya seperti mengutarakan sesuatu. Sebentar, aku mendengarnya. Ia menyampaikan rasa rindu dari seseorang. Itu kamu. Aku juga, merindumu tanpa jeda. Pada sela-sela jendela, aku melihat bintang itu. Aku bercerita, bahwa rindu itu selalu tahu kemana ia menuju, dan aku tahu bahwa ia akan sampai menujumu. Beberapa pertemuan hanya menghidup...

Bintang Berwana Jingga

Selamat malam, bintang yang paling terang. Kunamai kamu Jinggaku. Jika kamu penasaran, kenapa kunamai kamu Jinggaku, sini kuberitahu; Sejak dulu, saat aku baru mengenali tata surya, aku hanya tertuju pada satu pusat yang mampu mengalihkan pandanganku, yaitu Bintang. Aku menyukai Bintang yang paling terang, sebab ia dikelilingi semesta yang baik, meski dalam gelap sinarnya mampu mengindahkan angkasa raya. Melihatmu, seperti kali pertama aku menemukan Bintang yang paling terang. Semesta yang mengenalkanku pada tatap teduhmu yang menenangkan. Pada setiap gelap yang menakutkan, kini aku mulai berani membuka mata. Sebab aku percaya, Bintang pasti akan mengindahkan kegelapan yang sempurna. Kali ini, bukan perihal menerangi. Bintang berwarna Jingga yang aku miliki, hanya tercermin dari hangat tatapmu dan teduh senyummu. Lalu, apa kamu masih penasaran kenapa kusebut kamu Jinggaku? Jingga adalah warna kesukaanku, saat semesta menampilkan keindahan yang sempurna, tergamba...

Pagi dan Sebuah Coklat Darimu

Pagi itu terasa lebih manis. Bukan karena melihat tatapnya yang menenangkan seperti biasanya, kali ini berbeda. Bukan perihal coklat digenggaman yang baru saja ia berikan. Tapi, lebih dari itu. Sebuah pengakuan. Ia malu-malu mengumpat dibalik senyum yang menggemaskan, sebentar-sebentar matanya mencuri pandang menikmati senyumku, kali ini aku merasa lebih cantik ketika melihat matanya yang berbinar mengamati setiap lekuk dalam wajahku. Aku semakin ingin tersenyum semanis mungkin, membiarkannya menikmati senyumku lebih lama. Hingga tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu yang membuatku ingin memeluknya saat itu juga, sebuah coklat. Sederhana memang, siapapun bisa memberikan untuk yang terkasih. Namun, aku begitu bahagia sekali. Rasanya, aku tidak pernah memimpikan ia yang berada di depanku berlaku semanis itu hanya untuk membuat senyumku kembali. Terima kasih, aku begitu bahagia hanya dengan menatapmu, kali ini bertambah bahagiaku kala aku menerima coklat darimu. Sebuah ...

Teruntukmu, Jingga.

Teruntukmu, seseorang yang nanti pada saatnya akan menjadi satu-satunya pasangan hidup untuk menemaniku dan memilihku menjadi yang terakhir. Kupercayakan setiap peluh pada bahumu, Kutitipkan setiap rindu pada waktumu, Kuberikan setiap tawa bahagia pada hari-harimu, Kupanjatkan setiap doa untuk mendukungmu, Kujadikan kamu apapun yang bisa ku bagi setiap detik pada hidup. Tawa bahagia, air mata kesedihan, masalah, kekuatan, kepercayaan, kesetiaan, kesabaran dan keikhlasan pada apapun perihal tujuan kita. Ketika aku memilihmu, berarti aku mempercayaimu. Ketika aku bersamamu, berarti aku bersiap mendampingimu. Ketika aku memutuskan hidup bersamamu, berarti aku menerima kekuranganmu. Ketika saat itu tiba, jadilah teman hidup yang paling baik, paling pengertian, paling menyayangi, paling tulus mencintai, paling tidak; jangan pernah berpaling. Aku mencintai seseorang sepertimu, seseorang yang ketika hanya menatap matamu aku bisa melihat setiap bayangan perihal masa depan ...

Semesta Untuk Jingga

Sepertinya aku harus mulai berterimakasih pada semesta. Sebab ia dengan sempurnanya mempertemukan perihal kita. Perihal-perihal sederhana yang membuatku dengan mudah jatuh cinta, pada setiap apapun yang ia gunakan, pada setiap apapun yang ia katakan, pada setiap tatapan, pada setiap pelukan, pada setiap senyuman, dan pada setiap kejutan-kejutan sederhana yang membuatku layaknya seperti perempuan yang sedang berada diatas angin, di bawa terbang menuju angkasa, diperlihatkan keindahan dan pesona cakrawala, bersama hanya kita berdua. Berkali-kali aku ingin mengutarakan, aku mencintai takdir tentang kita. Setiap apa yang kita lakukan tidak pernah tidak bermakna, sekalipun hanya saling menatap mata. Dulu, aku begitu penasaran bagaimana cinta bekerja. Namun, kali ini aku telah mengerti, begitu mengerti sampai akhirnya aku tidak lagi perlu mencari tahu bagaimana cinta bekerja, bagaimana cinta dapat menyatukan kedua rasa, bagaimana cinta menguatkan untuk selalu percaya, sebab itu kamu ma...

Temui aku, disini Jingga-ku

Malam semakin larut, Hujan menggenangi hati yang sepi, tanpa kehadiran pujaan hati. Dimana ia berada, masihkah ingat bahwa aku ada. Sepertinya ia mulai lupa peran aku sebagai apa. Tapi, tak akan aku biarkan begitu saja. Apa yang telah menjadi milikku, akan selalu ku perjuangkan untuk tetap bersamaku. Aku percaya, hidup setelah mencapai tujuan bukanlah akhir. Perjuangan tetap harus dilakukan, terlebih sebuah pengertian. Terkadang, rasa cemburu ku hanya untuk melihatmu merasa bersalah lalu mencoba memperbaiki agar aku kembali percaya bahwa; disini, hanya aku. Terkadang juga, rasa marah ku hanya untuk melihat mu mencari apa kesalahan yang telah membuat ku menjadi berbeda, meski kamu tahu bahwa bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap mencintaimu seperti biasanya; dengan caraku, sepenuh hati untukmu. Aku ingin menciptakan kenangan perihal kita, tidak hanya mengenai kisah-kisah romantis yang terukir dalam perjalanan menuju tempat terindah yang lain, sebab kesedihan selalu saja men...

Imajinasi Rasa Pada Jingga

Pada malam ke dua puluh tiga di bulan juni. Aku merahasiakan imajinasi-imajinasi rasa yang mengepung membentuk rindu, dengan menggenapkan seluruh kepercayaan, aku ambruk dalam dekapmu , mencintai dengan rapuh, aku menyayangi hujan yang mengiringi waktu kala itu, sebab ia terlalu baik, membuat candu , selalu saja kamu, memulai semua percaya yang mengikis ragu . Terimakasih , pada waktu kala itu.  Sebab ia membawaku menujumu, olehmu aku merasa tak perlu mencari kembali. Jika bisa, aku ingin membuat sebuah kata baru, sebab bahagia saja tidak cukup mewakilkan. Aku lebih dari bahagia , lebih dari menerbangi angkasa, menembus jutaan cakrawala. Pada ombak, mencintaimu lebih dari membuatku tenggelam . Sepertinya aku jatuh, pada rasa percaya yang utuh. Teruntuk jingga-ku Aman tenang jiwa yang lemah Jutaan rindu mengepung Menjadi langkah Terarah Dengan warnamu, aku nyata Menjadi serpihan indah Tanpa luka mesra Disini Disam...

Teruntuk, kamu.

Aku suka melihatmu berada di depanku, Aku suka melihatmu tersenyum, Meski aku tahu rindu akan kembali menggebu. Sungguh, Menyebalkan sekali, ketika rindu ini tidak pernah habis. Teruntuk, kamu. Terima kasih telah hadir, telah menggenapkan untuk memberi, telah menyatukan untuk mencintai, telah peduli, dan berbagai telah yang lainnya. Terima kasih pernah ada, pernah membuatku merasa begitu bahagia dengan perlakuan-perlakuan sederhana, pernah membuatku merasa begitu ingin hidup lebih lama untuk menemani kamu sampai tua, pernah membuatku merasa berharga karena dicintai kamu dengan sebegitunya, dan berbagai pernah yang lainnya. Berkali-kali kita saling mengerti, saling mempercayai, saling mendukung, saling membahagiakan, dan yang terpenting saling mencintai. Aku mencintai takdir tentang kita, sebuah proses yang tidak perlu di protes. Denganmu, aku mempelajari banyak hal. Sebuah proses adalah yang terpenting dalam mencapai tujuan. Sebab segala sesuatu nya bermula da...